“Karena Ibu” adalah Sumber Cinta yang Tak Perlu Diminta

“Be a strong woman. So your daughter will have a role model.”

Ibuku berhasil menginspirasiku. Ia telah mematahkan segala bentuk taksiran rendah dan cibiran meremehkan bahwa wanita adalah makhluk yang lemah. Ia berhasil membuatku, penghuni pertama  rahimnya, sadar betul bahwa untuk menjadi seorang wanita yang kuat tak perlu menjadi cat woman atau saraz 008, cukuplah menjadi IBU.

Saat itu jam 2 pagi. Semua tertidur. Sunyi dan gelap.

Tepat setelah menuangkan kegelisahan dalam sujud, tiba-tiba perut terasa mencengkram. Suara pun seakan tertahan di tenggorokan. Mencoba beristigfar dikala keringat dingin mulai mengucur, rasa takut pun mulai muncul. Tapi sesosok wanita bernama Ibu membuatku sedikit lebih tenang, karena dari sorot matanya ia berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Ya, kala itu aku ditakdirkan Allah untuk merasakan perjuangan hidup dan mati seorang ibu, melahirkan kehidupan. Apalah aku tanpa ibu. Di ruang persalinan kesulitan mengejan, apalagi mengatur nafas. Oh ini kah yang ibu pertaruhkan ketika melahirkanku?. Seperti rol film yang berputar, memori ketika aku melawan nasihatnya, menyakiti hatinya, berputar-putar di kepalaku. Aku semakin lemah, hampir menyerah. Semakin ku cengkram tangan ibu, dan memohon ampun padanya. Dan ia terus memberikanku semangat, tak berubah, sama seperti saat aku hampir menyerah belajar naik sepeda, atau ketika hampir berhenti mengejar bangku kuliah karena kekurangan biaya. Ia berkata “kamu bisa, ibu percaya kamu bisa.” Hingga akhirnya Allah dengan segala kekuasaannya mengizinkan seorang puteri kecil lahir dari rahimku walaupun tanpa mengejan, saat itu aku dilahirkan menjadi seorang ibu, lewat keridhoan seorang Ibu.

Wanita 3 Generasi : Ibu, Aku dan Anakku

 

Ibu yang Kuat

Ku tatap dari ujung ranjang persalinan, kusadari bahwa wanita paruh baya yang sedang menggendong cucunya itu semakin menua. Kulitnya mulai keriput, dan jalannya semakin membungkuk. Selama ini ia harus berjuang sendiri menghidupi aku dan adikku setelah kepergian ayah sejak usiaku 16 tahun. Dan Allah memberikannya ladang pahala lebih besar dibalik keistimewaan adik. Allah mengharuskan ibu untuk selalu mengisi ulang amunisi kesabarannya. Adikku mengalami tuna daksa sejak lahir. Bukan hanya tak bisa bicara, tapi adikku juga tak bisa berjalan bahkan sekedar duduk dan membalikan badannya. Penyebabnya adalah kerusakan pada otak yang terjadi sebelum kelahiran, dunia medis menyebutnya cerebral palsy. Penyakit ini bukan hanya membuat tubuh adik menjadi sangat kaku, tapi juga tantrum atau emosi yang sering meledak-ledak. Namun tak pernah kulihat ibuku menyerah, apalagi menyurutkan limpahan cintanya. Hingga saat ini, adikku yang berusia 20 tahun dengan berat badan sekitar 40 kg tetap dirawatnya. Disuapi ketika lapar, diangkat ketika mandi, pun didekap ketika kedinginan. Betapa banyak tenaga dan sabar yang ia habiskan setiap harinya. Bahkan merasakan kelahiran pun belum ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan ibu merawat kami.

Ibu, Aku dan Adikku

 

Dari peristiwa mengandung, melahirkan, dan dilahirkannya aku menjadi ibu, aku sadar bahwa berperan sebagai ibu tidaklah mudah.  Menjadi ibu harus kuat, kuat merasakan lelahnya mual muntah selama berbulan-bulan, kuat membawa janin yang bertumbuh besar di dalam perut, kuat merasakan sakralnya kontraksi melahirkan dan kuat mendedikasikan diri menjaga amanah Allah selama 24 jam per tujuh hari tanpa jeda libur. Tapi tak pernah kudengar ibu mengeluh sedikitpun, hingga semuanya kulewati dan kualami sendiri.
“Karena Ibu” lah, aku belajar untuk lebih banyak bersyukur daripada mengumbar keluh. Darinya aku belajar, bahwa sabar itu tidak berbatas pada siapa dan berapa lama waktu yang dihabiskan. Karena cinta ibu sangatlah murni, mengalir tanpa diminta.

 

Karena Ibu

Sahabat, aku belum sempurna membahagiakan ibu, tapi izinkan aku untuk membuatmu kembali mengingat kapan terakhir kali memeluk ibu. Bahwa tak selamanya ibu akan selalu hadir di sisi kita. Entah esok atau lusa, pemiliknya akan memeluknya kembali. Sebelum ia tak mampu lagi mendengar kata, ucapkanlah rasa cintamu juga syukurmu bahwa tanpanya kita bukan apa-apa.

Karena ibu, kita hampir tak pernah kesulitan mencari dimana letak gunting kuku, sisir, bahkan pasangan kaos kaki kita. Ia tahu segalanya.

Karena ibu, makanan di rumah selalu tersaji dengan sempurna. Ia koki terbaik sepanjang masa.

Karena ibu, sesungguhnya buku diary hanya selingan saja. Ibu pendengar dan pemberi solusi terbaik.

Karena ibu, adalah orang yang diam-diam menyelipkan nama anaknya ketika memohon berurai air mata kepada Allah. Ia bahkan lupa meminta sesuatu untuk dirinya sendiri.

Karena ibu, kita tahu bahwa cintanya selalu ada untuk kita, tanpa harus diminta. When everyones leaves, your mother will be there.

Ibu adalah orang pertama yang selalu ada ketika dibutuhkan, semesta bagi anak-anaknya. Terimakasih untuk seluruh ibu di muka bumi ini. Semoga lengkung senyummu selalu terukir menghiasi dunia.

Dan teruntuk Ibuku, Eli Yuliani – Sesosok cinta yang berwujud wanita, aku sangat mencintaimu.

 

Tulisan ini diikutsertaan dalam lomba blog bertemakan “Karena Ibu” yang diselenggarakan oleh Saliha.id.

Posts published: 39

16 comments

  1. Juwita Ratna says:

    Emaaaaaaaak…: (( menyentuh sekali mbaa. Terimakasih sudah mengingatkan saya pada ibu.

    1. Indah Riadiani says:

      Salam buat emak nya ya mba , dan terimakasih sudah berkunjung :))

  2. Nafisyah Nahl says:

    Speechless..langsung inget mama . Tulisanya jleb banget

    1. Indah Riadiani says:

      Titip kecup buat mama Nay :*

  3. Dira Tania says:

    Salam buat mama eli ya ndaah

    1. Indah Riadiani says:

      Insha Allah disalamin ya Dira, salam juga buat mama Dira semoga sehat selalu :))

  4. Aimar Hakam Al Fatah says:

    Salut sama mamanya Indah. Saya juga punya sepupu yang cerebral palsy, luar biasa perjuangan ngasuhnya apalagi sampai sudah 20 tahun seperti adik indah. Semoga mama sehat terus ya, mama kuaaaat !!!

    1. Indah Riadiani says:

      Masha Allah, aku baru tahu Kak. Aamin, semoga mama Kakak juga sehat selalu :)) terimakasih ka

  5. Rabbani says:

    Salam kenal kak indah. Diam-diam saya selalu baca tulisan kakak. Termasuk kali ini saya pun kembali tergugah. Terimakasih

    1. Indah Riadiani says:

      Salam kenal Rabbani 🙂 wah terimakasih banyak

  6. Zenal says:

    Ternyata Una ada mirip emaknya juga yak 😂

    1. Indah Riadiani says:

      iyalah, orang gue emaknya 😀 ahahah

  7. Irene says:

    Nangiiiisssss T..T

    1. Indah Riadiani says:

      Cup cuup 🙏🏻

  8. Salman Khalif says:

    Langsung pengen meluk mamak rasanya. Banyak bgt dosa gue sama dia

    1. Indah Riadiani says:

      Ayo peluk, jangan tunda lagi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enter Captcha Here : *

Reload Image

About Me
Saya R. Indah Riadiani Hapsarie. Seorang ibu dan long life learner dengan hobi fotografi, videografi, dan literasi. Berpengalaman sebagai penyiar radio dan Junior Expert Public Relation untuk KP3EI Kementerian Koordinator Perekonomian Indonesia. For any inquiries please contact indahriadiani@gmail.com
Juara 1 KPPPA Vlog Competition Bersama TVOne
Juara 2 Video Contest Bersama BioStrath
Juara 1 Lomba Blog Nasional Batik Lebih Baik
Juara 3 Gin International Blog Competition
Juara 2 BPOM Blog Competition
Juara 2 Hatta Rajasa Writing Competition
Badan Pemeriksa Keuangan
Calendar
December 2017
M T W T F S S
« Sep   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Bukopin Siaga
Part of
Copyrights © 2017 R. Indah Riadiani Hapsarie. All Rights Reserved.