“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” [QS. Al-`Alaq ayat 1-2]


Kamis, 24 November 2016 
Pagi

Saat itu, hari berjalan normal seperti biasanya. Terbangun saat subuh, kemudian bersiap jalan pagi dengan instruktur paling semangat sejagad raya, Mak Uju. Tapi entah kenapa, setelah sarapan soto, ada keinginan untuk menambah kegiatan jalan kaki di sore hari, rasanya ko jalan paginya kurang jauh gitu ya. Alhamdulillah, walaupun sudah menginjak 9 bulan 3 minggu, badan rasanya masih ringan, bengkak pun tak ada (kecuali pipi – bengkak dari lahir), jadi enaknya ya jalan terus, gerak terus. 

Setelah melakukan yoga, lanjut senam hamil sebentar,  yaa seperti biasa, joged-joged india satu lagu, kemudian nyanyi-nyanyi, dan  berjemur setelahnya (kalo ada matahari), baru setelahnya mandi. Setelah mandi, rasanya segar dan nyaman tiada tara. Makanya saya suka bingung, katanya orang hamil itu malas mandi, tapi ko saya sebaliknya ya, rasanya malah ingin mandi terus.

Selama kehamilan, saya bertekad untuk khatam Qur’an tiap bulan dan shalat sunah tanpa bolong. Ya tapi apalah daya banyak godaannya. Walaupun belum sempurna, tapi buat saya, shalat dan membaca Qur’an, apalagi dengan artinya, adalah hal yang jauh lebih menenangkan dibanding meditasi dan cara-cara lainnya.

 

Siang,

Biasa saja, belum ada tanda-tanda. Normally, saya tidur siang, lanjut makan siang ditambah makan makanan untuk induksi alami seperti nanas dan kurma. Nanas nya nanas manis dan matang ya, maksimal sehari tiga potong saja, itu anjuran dokter dan bidan.

 

Sore, 

Niat untuk jalan kaki agak jauh akhirnya terealisasikan. Tak lupa saya pun jajan somay untuk menambah stamina 😀 . Jadi orang hamil rasanya bahagia deh, disapa setiap orang sambil dielus perutnya dan didoain. Na..kelak semoga kamu dicintai banyak orang ya…aamin

 

Malam,

Pun berlalu seperti biasa, nonton tv, ngobrol sama mama, baca buku dongeng, dengerin Muzamil Hasballah, ngaji, dan akhirnya tertidur di jam 10. 

 

Dini hari , 25 November 2016

Jam 12 malam pun terbangun seperti biasa. Tepat setelah rutinitas rohani malam, tiba-tiba datanglah si gelombang cinta. Rasanya masih seperti yang dulu, nyut-nyut kemudian hilang. Karena sudah terlalu sering merasakan kontraksi palsu yang datang dan pergi, jadi saya santai saja, saya CUEKIN. Tapi ko coba untuk tidur lagi gak bisa ya ?. Saya coba berdiri, gelombang cinta alias pijatan rahim, alias kontraksi pun tak kunjung hilang. Mulai deg-degan tapi mencoba untuk tenang. Tarik nafas, buang nafas.

Jam 1 pagi, saya mulai curiga karena pijatan rahim semakin kuat. Bermodal contraction tracker dari aplikasi Baby Bump dan Kontraksi Nyamannya Bidan Yessie, saya mencoba untuk menghitung setiap kontraksi yang datang. 

Dan agak sedikit kaget karena kontraksi sudah satu menit sekali dengan durasi 1 hingga 2 menit. Mulai jam 2 pagi saya tak bisa duduk, rasanya ingin berjalan dan berjalan ke tempat yang sunyi. Jika ada yang bertanya bagaimana rasanya kontraksi, jawaban saya  “LUAR BIASA” mantap dan segar pokonya. Banyak yang bilang seperti mau buang air besar, tapi saya merasakan seperti mulas saat menstruasi, hanya saja nikmatnya terasa sampai ke bagian belakang perut juga. Kemudian bagaimana cara menghadapi kontraksi ? jawabannya singkat, NIKMATI saja !  Layaknya ombak yang tiba-tiba datang kemudian pergi, kita nikmati saja dengan surfing atau berenang santai di atasnya. Nikmati saja, berdzikir dan berfikiran positif  karena kita akan segera bertemu dengan dede bayi. Selama kontraksi saya malah masih sempat ngetawain mama yang panik, tiba-tiba langsung ngepel, nyapu, masak dan beres-beres rumah saat tahu kontraksi saya mulai intens.

Jam 4 pagi , fix saya harus ke bidan, karena si contraction tracker sudah bawel nyuruh saya pergi ke tenaga kesehatan terdekat. Baiklah, saya pun mandi air hangat, duuh nyamaan banget, apalagi kalo berendam, kayanya bakal mengurangi nyeri kontraksinya deh. Saya berwudhu dan mencoba untuk shalat, subhanallah ternyata saya tidak sanggup, akhirnya saya langsung bersiap pergi ke bidan.

4.30 pagi saya pun pergi ke Bidan Ayu, bidan yang sudah menerima dan menyetujui semua birth plan yang saya ajukan. Tiba di bidan, dengan berat hati saya harus menerima kenyataan bahwa Bidan Ayu sudah berangkat ke Jogjakarta untuk seminar, tadi malam. Rasa sedih plus nyeri pun beradu. Tapi saya pasrah, Allah pasti akan menolong saya. Asisten Bidan pun melakukan VT (Vaginal Touch), dan ternyata saya sudah pembukaan 4. Si pijatan rahim pun semakin aduhai, sambil menunggu 6 bukaan lagi, saya jalan kaki kurang lebih 15 menit keliling komplek klinik bersalin. Sambil menikmati udara pagi, saya berjalan menggerak-gerakkan tangan, mencoba mengalihkan rasa nikmat kontraksi. Saat kembali ke klinik, bidan pengganti dari RSUD pun sudah datang dan kembali melakukan VT. Ow ternyata sudah pembukaan 9. Emejing sekali pemirsah ! Saya langsung disuruh rebahan di ruang bersalin. Saya disuruh miring kiri, tapi bandel, malah jongkok dan nungging-nungging (bodo amat). 

Entah jam berapa, keinginan untuk mengejan pun terasa. Sebelum saya mengejan, saya tanya dulu bidannya, apakah serviks sudah membuka sepenuhnya? (Sempet ya nanya). Ternyata memang sudah pembukaan full. 

Saya pun mengejan saat kontraksi datang. Pertama kali mengejan…. Una belum mau keluar. Kedua kali mengejan…Una belum mau keluar juga, melainkan air ketuban yang sedikit menyembur..

“Bu bidan, sabar yaa, ga buru-buru kan? Ini bentar lagi ko kayanya” Kata saya, ngerasa bersalah gitu, takut kelamaan.

Semua pun tertawa. “santai aja teh” kata salah satu asisten di sana.

Di dalam ruangan lumayan ramai ya kaya di pasar. Ada satu Bidan, 4 Asisten, Mama dan Emak. Suami saya kemana? Ada, tapi masih di jakarta…ditelpon 24 kali dari jam 3 subuh gak diangkat, jadi ya baru berangkat jam 5 dari jakarta.

Nah beberapa menit kemudian, datanglah kontraksi yang jauh lebih dahsyat dari biasanya. Dengan cepat, saya memanfaatkannya sambil mengejan (walaupun belum yakin Una mau keluar saat itu). Badan setengah duduk sambil kedua tangan memeluk paha, saya mengejan sambil berusaha untuk konek dengan tubuh sendiri. Emak mengusap kening saya sambil membaca Al Fatihah, mama bersama bidan memperhatikan jalan lahirnya Una, 4 asisten fokus dengan tugasnya masing-masing. Dan… Tarik nafaaaas….Bismillah….

Alhamdulillah, 06.50 Una terlahir dengan nyaman, saking nyamannya, saya bertanya-tanya dalam hati, “ko gak sakit?” tahu-tahu dalam hitungan detik Una sudah ada di dada saya.

Rasanya bahagia tak terkira bertatapan mata dengan Una di detik-detik itu, masih belum percaya. Sementara bidan mengeluarkan plasenta dan memotong tali pusar, Una menggeser-geser wajahnya di dada saya untuk mencari puting. Tak sampai 10 menit, Una menemukan puting kiri dan langsung melahapnya. Bidan bilang “anaknya pinter tuh, IMD nya cepet” alhamdulillah, entah sudah ada apa belum, Una menghisap ASI dengan lembut. Tapi sayang hanya beberapa menit saja, karena terlihat Una jatuh dari badan akibat saya “gugurubugan” kesakitan dijahit. 

Ya, ternyata bidan melakukan episiotomy (pengguntingan peurineum) tanpa sepengetahuan saya. Padahal dalam birth plan saya, episiotomy dilakukan apabila sudah sangat urgent dan membahayakan bayi, itupun jika saya mengizinkan. Saat itu Bidan Ayu setuju, tapi ya karena bidannya bukan Bidan Ayu…saya terima saja deh, mungkin perineum massage yang saya lakukan kurang rajin. Tapi Alhamdulillah, Una lahir dengan keadaan bersih, tenang, sempurna dan masa kontraksi yang tidak terlalu lama (kurleb 5 jam). Pemulihan jahitan pasca melahirkan pun alhamdulillah terhitung cepat, tiga hari saya sudah mulai belajar jongkok, dan berjalan normal seperti biasa (tapi hati-hati sekali). 

Pemberian Nama

Al Fath Lubna Syalevi, nama yang secara resmi kami berikan tepat ketika Ayahnya tiba. 

Al Fath ( الفتح , “Kemenangan”) adalah surah Al Quran ke-48 yang secara garis besar menerangkan kemenangan-kemenangan yang dicapai oleh Nabi Muhammad. Dalam Sahih Bukhari, Al Fath adalah surah yang dicintai oleh Nabi Muhammad

:” Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku satu surat, yang surat itu benar-benar lebih aku cintai dari seluruh apa yang disinari matahari”.

Sedangkan Lubna adalah seorang wanita Spanyol yang sangat dihormati kalangan Istana Ummayah karena kecerdasannya di bidang tata bahasa, matematika dan ilmu pengetahuan lain.

Dan Syalevi adalah nama Ayahnya. 

Al Fath Lubna Syalevi, Engkau adalah sebuah kemenangan yang dicintai Nabi Muhammad, semoga kelak menjadi sosok wanita yang cerdas dan terhormat, pun tak lupa bahwa engkau memiliki sosok ayah yang  hebat, Rahmad Syalevi namanya. 

Dilahirkan di Subang, Jumat 25 November 2016

Pukul 06.50 WIB

BB 2.7 Kg

PB 46 Cm

Semoga menjadi anak yang sehat sempurna, berakal cerdas dan berilmu, lagi beramal sholeh. Aamin 

Ibumu, R. Indah Riadiani Hapsarie