Selaksa  kebaikan

 

Ramadhan

Bersama Shopee

Ramadhan hari ke xx.

Masjid masih sepi, sama seperti saat puasa hari pertama. Sajadah hanya tergelar di rumah masing-masing saja. Tak ada riuh anak-anak yang mengantri meminta buku Kegiatan Ramadhannya ditandatangani. Juga tak ada diskusi alot kapan dan dimana buka puasa bersama teman lama akan berlangsung. Yang ada hanyalah mata-mata sendu karena harus menahan temu untuk pulang memeluk Bapak Ibu. 

Sedih menyesak di dada itu pasti. Namun tentu himbauan untuk #DiRumahAja adalah solusi terbaik agar bumi segera pulih dari pandemi. 

Iya, mungkin ramadhan kali ini terasa berat bagi siapapun. Namun untuk meringankan hati dan merapalkan kesyukuran selama di rumah aja, izinkan saya bercerita tentang sosok yang kebaikannya membuat saya membuka kembali kotak ingatan, mengaduk-aduk memori ramadhan 5 tahun silam. 

 

Dari kiri: Anggi, Mama, Saya, Suami dan Anak

Ramadhan hari ke 3, tahun 2015

“Mama bingung, ga tau harus minta tolong siapa lagi buat jagain Dede” Suara dalam telepon itu setengah terisak. 

“InsyaAllah Indah pulang segera ya Ma.” Jawabku tegar.

Berat. Karena beberapa jam setelah telepon ditutup, sepucuk surat pengunduran diri, terpaksa saya layangkan ke meja atasan. Semua bertanya “kenapa”. Bukan kah baru saja 3 bulan bekerja? Sambil menunduk saya menjawab “Mama sakit, saya yatim, jadi tak ada yang mengurus Adik saya.”

Anggi namanya, ia spesial, tuna daksa sejak kecil. Anggi tidak bisa duduk, tidak bisa berjalan, juga tidak bisa bicara. Usianya kini 22 tahun, dan selama itu, untuk duduk , makan, maupun ke kamar mandi tentunya membutuhkan bantuan orang lain untuk mengangkat tubuhnya. Selama saya kuliah, Mama melakukannya sendiri, kadang dibantu nenek, hingga akhirnya Mama jatuh sakit dan kesulitan berjalan.

Bukan berarti kami tak mencarikan orang untuk membantu Mama mengurus Anggi. Sudah, tapi selalu berujung dengan kecewa. Mereka yang awalnya menyatakan “sanggup”, tiba-tiba pergi tanpa kabar, tanpa maaf. Maka saya memutuskan untuk pulang, mengurus Anggi dan bekerja sebagai penyiar acara sahur di sebuah radio. 

Setiap malam saya harus menggoes sepeda ke tempat kerja yang jaraknya kurang lebih 5 Km. Dikala yang lain tidur nyenyak di kasur kesayangannya, saya tidur meringkuk di atas karpet mushola radio, makan sahur seadanya, dan pulang dikala subuh. Paginya kembali merawat Anggi dan Mama. Bertemu lagi dengan kenyataan pilu, bahwa Mama belum bisa berjalan.

Begitu setiap hari. 

Malaikat Tak Bersayap Itu Datang

Di penghujung ramadhan, Mama masih belum juga bisa berjalan. Namun Doa tak henti saya rapalkan, semoga kondisinya bisa segera membaik.

La haula wala quwwata ila billah…

Pagi hari saat saya terseok-seok mengangkat Anggi, datang seorang nenek berusia 68 tahun, menyemai senyum malu-malu, sambil berkata “Neng, saurna peryogi nu ngadamel? InsyaAllah Emak kersa.” (Neng, katanya butuh ada yang bantuin di sini? InsyaAllah Emak sanggup). Katanya penuh santun.

Beliaulah Mak Cicih, malaikat penolong kami. Semenjak kehadirannya, banyak sekali kebaikan yang ia tebarkan. Beliau merawat Anggi seperti cucunya sendiri. 

Berkat Mak Cicih, Saya dan Nenek jadi bisa lebih fokus merawat dan mengantar Mama berobat ke rumah sakit. Alhamdulillah Mama pun berangsur pulih dan bisa kembali mengajar di sekolah.

Belajar dari Mak Cicih

Mak Cicih paling sering bertanya “Neng, ada baju atau mukena yang ga kepake?” atau “Neng, kalau makanannya ga di makan, buat Emak aja ya!”

Maka selalu saya carikan pakaian layak pakai untuk ia bawa pulang. Beberapa bungkus nasi pun sering  dibawakan untuknya. Ada gurat bahagia di wajahnya ketika ia merapikan satu persatu pakaian dan makanan ke dalam tas jinjing usangnya.

Namun, ada yang salah dengan dugaan saya.

Saya pikir, dengan umurnya yang tak lagi muda, dan mau merawat anak berkebutuhan khusus, adalah demi mendapatkan lembaran rupiah untuk menopang kehidupannya.

Ternyata saya salah, Mak Cicih tergolong orang mampu, uangnya cukup untuk menjamin hari senjanya. Jika ia mau, ia bisa saja diam di rumah, bermain dengan cucu-cucunya. Tapi tidak, ia memilih datang menolong kami, mengorbankan 6 jam berharganya setiap hari untuk merawat Anggi.

Saya pun salah sangka. Selama ini, tas jinjing yang berisi baju dan makanan ringan yang saya beri, ternyata bukan untuk keluarganya, bukan pula untuk dirinya, tapi untuk anak-anak yatim piatu di panti asuhan seberang rumahnya. Begitupun dengan amplop bulanan yang kami beri, sungguh isinya tidaklah banyak, namun ia sedehkahkan sebagian besarnya ke panti asuhan tersebut.

Lalu ketika saya tanya “Kenapa Emak mau menolong kami?”

Ia hanya menjawab dengan senyum “Allah yang menggerakkan hati Emak, Neng.”

Ada yang hangat menetes di pipi saya. Sadrah dan rapalan doa selama ini…Allah kabulkan. Allah kucurkan selaksa kebaikan Ramadhan kala itu melalui Mak Cicih. Darinya, kami belajar  tentang keikhlasan berbagi, juga tentang kebaikan tanpa syarat.

Begitupun dengan ramadhan kali ini. Walaupun di tengah pandemi…dengan kebaikan yang kita semai, semoga banyak hikmah dan berkah Allah yang bisa kita ambil. Bukankah Allah akan melapangkan seseorang yang melapangkan orang lain?

Seperti firman Allah:

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). Ar Rahman: 60

Selaksa Kebaikan Walau #Dirumahaja

Nanti kita cerita tentang ramadhan tahun ini, tentang di rumah aja, juga tentang covid-19 yang telah melumpuhkan berbagai sektor kehidupan. Pariwisata, pendidikan, transportasi, keagamaan, juga ekonomi. Indonesia…hmm dunia tertatih-tatih dibuatnya. Banyak pekerja dirumahkan dan terpaksa harus mengais rezeki di jalanan. Dilema katanya, antara harus berani ke luar rumah, atau mati kelaparan di dalam rumah.

Lalu bagaimana dengan kita yang berkesempatan di rumah aja? adakah celah untuk berbuat baik? jawabannya, banyak.

Seperti Mak Cicih yang tak hentinya menebarkan kebaikan. Dengan di rumah aja, kita bisa ikut berdonasi barang, makanan ataupun uang kepada pihak-pihak pengelola bantuan sosial yang turun ke lapangan. Saya sendiri ikut mendukung gerakan MoM (Mothers on Mission) Bogor dalam gerakannya berbagi nasi box. Walaupun tidak ikut turun ke jalan, namun dengan turut berdonasi dan membantu menyebarkan pesan kebaikan gerakan ini, artinya telah membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang tetap harus berjuang di jalan.

Ada pula gerakan yang digawangi sahabat-sahabat saya di kampung. Mereka mengumpulkan donasi perawatan untuk Pak Edi, seorang bapak dengan benjolan besar di paha atasnya sehingga membuat dirinya kesulitan berjalan.

Maka silahkan pilih, peran mana yang akan kamu ambil, banyak kebaikan yang bisa kita bagi walau hanya #dirumahaja.

Mak Een, Penjual Gorengan

Penyerahan Donasi untuk Pak Edi

Pembagian Nasi Box oleh MoM Academy

Pa Aru, Guru Silat

Mang Ito

Pembagian Nasi Box oleh MoM Academy

Shopee Selalu di Hati

Sedih memang, tahun ini kami urungkan niat untuk mudik ke kampung halaman. Artinya lebaran nanti tak akan ada ritual sungkem dan opor ayam khas Mama, termasuk juga tak bisa berkunjung ke rumah Mak Cicih untuk bersilaturahmi.

Namun berkat shopee, segala kebutuhan hari raya dan paket-paket hadiah sebagai penyambung silaturahmi bisa kami dapatkan tanpa harus ke luar rumah. Tinggal klik dari Bogor, kirim, sampai deh di Subang.

Seperti paham akan kekhawatiran kita semua, Selama Ramadhan #dirumahaja, Shopee banyak sekali menghadirkan deretan promo yang menarik. Namanya BIG RAMADHAN SALE #ShopeeDariRumah. Tak hanya gratis ongkir, Shopee pun memberikan Cashback Pasti 100 Ribu untuk semua produk Big Ramadhan Sale! Ibu-ibu yang merindukan hebohnya harga obral pun akan terobati dengan Big Midnight Sale dengan diskon hingga 99%. 

Coba mari kita intip video saya ini hihi.

Bagi penghamba cashback dan gratis ongkir seperti saya, Shopee menjadi platform belanja online terfavorit sejak tahun 2016. Ingat sekali saat itu saya sedang hamil besar, sambil memegang kertas berisi catatan perlengkapan bayi, saya terpaku menatap gawai, memfilter produk belanjaan di Shopee pada “harga terendah”. Sejak dulu Shopee selalu ikut terlibat dalam pemenuhan kebutuhan keluarga saya,  hingga secara tidak langsung lewat berbagai promonya-Shopee pun telah ikut berperan dalam kelancaran program berbagi kebaikan ini.

Bukan hanya itu…

30 April 2020, ponsel saya kembali berteriak “Shopee”. Ternyata ucapan Selamat Ulang Tahun dari Shopee, lengkap dengan hadiah berupa voucher cashback 100 Ribu koin shopee. MasyaAllah baik sekali, bahkan dikirim satu hari sebelum hari kelahiran saya. Kalau ada niat baik, pasti ada jalan. Koin ini akan saya gunakan untuk tambahan hadiah bagi “orang-orang baik”, terima kasih Shopee.

Mulianya, tak hanya menghadirkan kebaikan untuk pembeli, Shopee pun memberi dukungan untuk penjual atau UMKM dengan memberikan program bantuan kesejahteraan sebesar Rp100 miliar melalui program Dukungan Covid-19 100M Shopee. MasyaAllah, bergetar hati saya. Ramadhan dengan selaksa kebaikannya memang nyata terasa.

Teringat sebuah tulisan Pengajar Muda bernama Dimas Sandya. “Seorang teman berkata bahwa kita ini hidup karena budi baik orang lain. Kita makan beras dari budi baik petani, kita makan ikan dari budi baik nelayan, kita punya rumah dari budi baik para kuli bangunan. Kita sudah banyak mendapat kebaikan dan sudah saatnya kita membalas kebaikan itu dengan budi baik kita.” 

Kebaikan itu menular, maka tularkanlah! 

Sumber Foto: Penulis, MoM Academy Bogor.

Video: Penulis

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Blog #THRBigRamadhanSale2020 Bersama Shopee