Kala Pandemi

Sedih Itu Pasti, Namun Tetap Positif Adalah Pilihan

Nanti Kita Cerita Tentang Pandemi Ini

Seperti petir di siang bolong, kala dunia sedang baik-baik saja, tiba-tiba salah satu negara di Daratan Cina terkena wabah. Dalam hitungan bulan, wabahnya pun menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kita mengenalnya sebagai pandemi Covid-19.

Pandemi ini berdampak pada semua kalangan. Tua-muda, kaya-miskin, pria-wanita, orang jahat-orang baik, siapapun. Manusia hampir serentak merasa sendu, sedih, cemas, bahkan takut. Ada yang bisa mengelolanya dengan baik, namun juga tak sedikit yang panik.

Sebagai emak-emak milenial yang sudah work from home sejak 3 tahun lalu, bukan berarti saya tidak terkena imbas masa karantina akibat covid-19 ini…

Secara mental, saya juga ikut merasakan dampaknya ko. 

Suami saya work from home. Mulai dari bau, wangi, sampai bau lagi, ia terus bersinggungan dengan saya. 

Saya yang biasanya sumringah ketika mendengar bapak kurir meneriakkan kata “PAKET”, kini justru terdengar mengerikan, takut suami nanya lagi “ini paket apalagi sih?” (Jeng Jeng!!) Artinya apa? ada perubahan ruang pribadi saya di rumah. Kalau menyoal beban perkerjaan rumah tangga yang bertambah, jangan ditanya lagi… nyuci piring sehari berapa kali buibuuu? Ratusaaan…

Ya, lelah fisik sudah pasti. Cemas dan takut akibat covid jangan ditanya lagi. Ditambah pula emosi yang kadang diuji oleh anak-anak. Pandai sekali si covid ini mempermainkan mental saya. Parahnya lagi, lingkungan pun sempat tidak mendukung. Saya pernah sangat stress sekali ketika masih saja melihat di sekitar lingkungan banyak orang yang berkerumun. Ibu-ibu rumpi berkumpul sambil haha-hihi tanpa masker, bapak-bapak dengan riangnya bermain bola. Gemas rasanya. Saya curahkan isi hati saya di status whatsapp, bukannya membantu, saya malah jadi overthinking, marah-marah, dan berujung pada kerontokan rambut.   

Berikut mungkin ilustrasi bagaimana saya di mata suami saat awal-awal #dirumahaja

Hari pertama: Bagai bidadari

Hari Keempat: Kepala Sekolah

Hari Kelima: Conjuring

Minggu kedua: Mak Lampir

Minggu Ketiga: Naga Indosiar

Minggu Keempat: Budidaya Ular Sanca

Ya kira-kira segahar itu lah saya di mata suami. Namun saya sadar, itu tidak baik untuk mental saya, dan lebih jauh lagi, itu akan memberi efek buruk pada keluarga.

Paradoks Stockdale

Pernah baca buku Jim Collins yang judulnya Good To Great? Di sana ada bahasan tentang Paradoks Stockdale yang disebut-sebut media bisa menjadi pelajaran besar selama pandemi ini. Stockdale sendiri diambil dari nama mantan Wakil Laksamana Angkatan Laut Amerika Serikat yang dikirim perang ke Vietnam. Beliau adalah tahanan perang yang mendapatkan penyiksaan selama hampir delapan tahun di sana. Namun pada akhirnya ia lolos dan bisa dikatakan “menang”.

Intinya, Dalam situasi yang tidak pasti seperti sekarang ini, Stockdale mengajarkan kita untuk bersikap optimis namun tetap realistis. Fakta bahwa adanya ribuan masyarakat Indonesia yang terjangkit covid-19 sangatlah pahit. Namun justru itu sangat perlu kita ketahui sebagai batasan tindakan atau keputusan yang akan kita ambil. 

Pikiran saya pun terbuka, saya sepakat untuk mengurangi serbuan informasi tentang Covid-19, namun tetap hadapi realitas dengan berani dan tentunya tetap fokus pada apa yang ada dalam kendali diri. Hal-hal yang di luar kendali diri tak perlu dikhawatirkan, apalagi menjadi beban fikiran. Just doing good deed.

Setuju? 

 

What I Can Control During Pandemic

 

Positifkan Diri

 

Hal-hal yang bisa saya kendalikan adalah tindakan-tindakan saya sendiri. Ini cara saya melawan pikiran-pikiran negatif akibat pandemi: 

 

Membaca Buku Baru

Hal yang saya sukai namun selalu tertunda, yakni membaca buku-buku baru. Sudah terlalu lama tumpukan buku-buku yang baru dibeli, menunggu untuk saya baca. Ada yang sudah menunggu 3 bulan, ada juga yang walaupun sudah dilepas segelnya, tetap menganggur  selama setahun. Ini saatnya saya membayar hutang wawasan untuk diri saya, sekaligus menyuntikan sedikit nutrisi untuk otak agar teralih dari banjirnya informasi tentang covid 19.

 

Mempraktekan Metode Konmari

Dari sekian banyak buku yang saya baca, saya tertarik untuk mempraktekan seni hidup minimalis ala Francine Jay.

Diawali dengan memilah barang mana yang akan dibuang, didonasikan, dijual, dan disimpan. Setelahnya saya kombinasikan dengan teknik bebenah ala Marie Kondo, atau yang biasa disebut Metode Konmari. Trust me, kegiatan ini membuat kepala saya menjadi lebih ringan. Hati saya rasanya lapang melihat ada kekosongan ruang dalam lemari saya yang sebelumnya penuh sesak. Tanpa saya sadari, saya pun tersenyum setiap membuka lemari. 

 

Mewarnai

Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Creativity Research Journal menyebutkan bahwa kegiatan mewarnai bisa menekan tingkat kecemasan dan stress. Penelitian tersebut melibatkan 115 wanita berusia 18 – 36 tahun yang ikut serta dalam mewarnai, teka-teki logika, dan Sudoku selama seminggu. Riset menyatakan bahwa mereka yang ikut mewarnai menunjukkan tingkat gejala depresi dan kecemasan yang jauh lebih rendah loh. 

And it works for me. Bermodal pensil kaca, penghapus dan crayon milik anak saya, mewarnai menjadi hal yang sangat menyenangkan buat saya. Saya pun menjadi lebih fokus dan melupakan segala pikiran yang membebani. Diakhir proses, walaupun hasilnya tidak sebagus yang lain, ada coretan anak saya juga huhu, namun gambar buatan tangan sendiri tetap membuat saya tersenyum kagum.

 

Melihat Sesuatu Bertumbuh

Dalam artikel “Why Gardening is Good for Your Mind as Well as Your Body”, yang ditulis oleh Carly Wood, mengungkapkan manfaat berkebun bagi pikiran kita. Selain bisa mengelola stress dalam tubuh, juga menjadi kesempatan bagi manusia untuk berinteraksi dengan alam. 

Saya sendiri selalu jatuh cinta ketika melihat sesuatu bertumbuh. Anak-anak yang tumbuh, ulat yang bermertamorfosa menjadi kupu-kupu yang cantik. Juga Pohon yang saya tanam ini…dari yang awalnya hanya sebuah biji yang saya lempar ke tanah kemudian menjadi bibit kecil, hingga sekarang sudah setinggi anak pertama saya. Ada rasa bahagia ketika memberinya siraman air dan pupuk. Hati saya nyaman.

 

 

Menulis

Untuk membuang kerak-kerak dalam pikiran, saya menjadwalkan diri untuk menulis di blog setidaknya sekali dalam seminggu. Apa pun yang ada di dalam fikiran, saya tuangkan, namun isinya diusahakan memiliki kebermanfaatan untuk pembaca. Awalnya  saya kesulitan karena harus mengatur waktu antara menyelesaikan pekerjaan domestik dan mengasuh dua balita. Namun ternyata bisa saya lakukan di sela-sela anak tidur siang. (Asal saya tidak ikut tidur juga). 

Di paragraf atas sempat saya singgung bahwa saat awal-awal #dirumahaja rambut saya rontok. Yak selain rontok, stress yang saya rasakan pun membuat rambut berminyak dan mengundang penumpukan ketombe, gatalnya MasyaAllah. Suami pun akhirnya menyarankan saya ke salon. Tapi dalam masa pandemi seperti sekarang ini mana mungkin bisa ke salon? Tutup juga salonnya ikut aturan PSBB. 

Namun kegelisahan ini terjawab ketika Mama menelusuri jejak rusaknya rambut saya ini. Setelah diingat-ingat, selain stress, saya pun akhir-akhir ini sering sekali bergonta-ganti shampo. Maklum emak-emak hemat, carinya yang lagi diskon hehe. Mama pun menyarankan saya untuk kembali menggunakan shampo kebanggaannya sepanjang masa, Emeron Complete Hair Care. Langsung nyanyi jingle Emeron jaman dulu. “Emeron Emeron Emeron Gaya Rambut, penuh pesonaaaa~~~

Sejak dulu Emeron memang dikenal dengan bahan-bahan aktif alami yang digunakannya, seperti aloe vera, pomegranate, urang-aring, jeruk nipis, dan ekstrak bunga matahari. Maka tak heran jika sampai sekarang banyak perempuan Indonesia yang tetap setia menggunakannya, termasuk Mama saya.

Saya sendiri sangat cocok dengan Emeron berwarna pink ini. Kandungan bunga mataharinya membuat rambut saya lebih halus dan lembut. Oya sekalian saya pun mencoba conditioner dan vitaminnya. Dan hasilnya? WUOW, saya jatuh cinta.

Tapi jangan kaget dulu, walaupun satu paket, harganya sangat terjangkau ko. Emeron shampo 340 ml seharga Rp. 23.900, Rp. Emeron Conditioner 170 ml seharga 14.600, dan Emeron Hair Vitamin seharga Rp. 7.000 saja.

Oke jadi inilah cara saya memanjakan rambut tanpa harus ke salon.