Cerita tentang Perjuangan, Kebersamaan, dan Perpisahan

Ada tulisan siswa yang menurut saya tidak sekadar menceritakan sebuah acara, tetapi juga berhasil menangkap suasana, perjuangan, dan perasaan yang menyertainya. Salah satunya adalah tulisan Elmi Sampe tentang Gelar Pamit KM8 Laksamana Malahayati.

Melalui tulisannya, Elmi mengajak kita melihat bahwa sebuah acara perpisahan tidak selalu harus mewah atau dipersiapkan dengan sempurna untuk menjadi berarti. Justru dari kesederhanaan, keterbatasan waktu, rasa lelah, dan berbagai kendala yang muncul, lahir cerita tentang kebersamaan yang sulit dilupakan.

Semua bermula dari rapat kecil pengurus OSIS untuk mempersiapkan perpisahan bagi kakak-kakak KM8 Laksamana Malahayati. Waktu yang tersedia sangat singkat, tetapi mereka tetap berusaha menjalankan tugas masing-masing. Fika dan John dipercaya menjadi MC, Nova dan Maylor mengatur perlengkapan teknis, Robi dan Pila mengurus konsumsi, Rianto bertanggung jawab atas dokumentasi, sementara Elmi dipercaya mengurus jalannya acara.

Dalam proses persiapan itu, ada Bapak Rendi sebagai panitia pelaksana yang terus mendampingi mereka. Bagi Elmi, kehadiran beliau bukan hanya sebagai pemberi arahan, tetapi juga sebagai sosok yang menguatkan ketika para panitia mulai merasa lelah dan kewalahan.

Persiapan ternyata tidak mudah. Anak-anak kelas 10 harus mempersiapkan berbagai penampilan dalam waktu yang sangat terbatas. Ada yang berlatih tari dan ada pula yang mempersiapkan teater. Latihan hanya berlangsung selama tiga hari. Bahkan untuk latihan tari, mereka harus berlatih tanpa pendamping karena pembina tari sedang sakit. Dalam kondisi tersebut, Elmi ikut membantu sebisanya.

Sementara itu, latihan teater mendapatkan pendampingan langsung dari Kepala Sekolah, Bapak Jujun Junaidi. Dengan penuh kesabaran, beliau membimbing para siswa dari pagi hingga malam agar penampilan mereka dapat berjalan dengan baik.

Menjelang hari pelaksanaan, kesibukan semakin terasa. Guru, siswa, panitia, dan warga sekitar bersama-sama memasang tenda, mendekorasi tempat, menyusun kursi, hingga membersihkan area acara. Setelah semua pekerjaan selesai, mereka masih harus kembali untuk melakukan gladi, meskipun waktu menuju pagi tinggal beberapa jam.

Tidak semua persoalan sempat diselesaikan. Masih ada kekurangan di sana-sini. Namun, seperti yang tergambar dalam tulisan Elmi, mereka akhirnya memilih untuk tetap melangkah dan memberikan yang terbaik.

Hari Gelar Pamit pun tiba.

Sejak pagi, kakak-kakak kelas sudah sibuk mempersiapkan diri, sementara para panitia kembali menjalankan tugas masing-masing. Acara sempat terlambat karena masih menunggu beberapa wali siswa yang belum hadir. Ketika tamu mulai berdatangan dan kursi semakin penuh, rasa gugup pun mulai muncul.

Namun setelah doa dan ikrar syukur dibacakan, kepanikan perlahan berubah menjadi rasa lega.

Acara memang tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Ada kendala teknis dan beberapa perubahan susunan acara. Tetapi semua itu tidak menghilangkan kehangatan suasana.

Salah satu bagian yang paling berkesan adalah ketika film angkatan KM8 Laksamana Malahayati ditayangkan. Film tersebut menghadirkan tawa sekaligus haru. Di antara suara tawa para siswa, Elmi juga melihat air mata wali kelas mereka, Ibu Elis Agustin, yang diam-diam menangis ketika menyaksikan kembali kenangan bersama anak-anak didiknya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Sekolah, Bapak Jujun Junaidi, dan Ketua Yayasan Dharma Bakti Karya, Bapak Ai Nurhidayat.

Penampilan teater berjudul “Ovan Kalah Sprint dengan Ferdi” juga menjadi bagian yang menarik. Meski dipersiapkan dalam keterbatasan waktu, penampilan tersebut berhasil membawa pesan tentang perjuangan, persahabatan, dan kenangan.

Namun bagi Elmi, salah satu momen yang paling mengharukan adalah prosesi wisuda dan penyerahan ijazah.

Melihat kakak-kakak kelas berjalan bersama wali mereka untuk menerima ijazah menjadi pengingat bahwa mereka yang selama ini hadir dalam keseharian sekolah kini telah resmi menjadi alumni.

Ada pula kendala kecil dalam prosesi tanda bakti pelajar dan pengukuhan pengajar pendidik karena surat yang belum sempat disiapkan. Dari kejadian sederhana itu, Elmi menangkap sebuah pelajaran penting: sebuah acara tidak harus sempurna. Yang lebih penting adalah bagaimana semua orang saling membantu ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Penampilan tari yang dipersiapkan dalam waktu singkat ternyata mampu menyentuh hati banyak orang. Begitu pula dengan tarian Lamaholot dari NTT yang mengajak seluruh warga sekolah menari bersama. Suasana pun berubah menjadi lebih hangat dan penuh kebersamaan.

Sampai akhirnya tiba pada sesi foto dan makan bersama.

Mungkin bagi sebagian orang, foto bersama adalah hal sederhana. Tetapi bagi mereka yang mengalaminya, momen itu bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti. Melihat kakak-kakak kelas berfoto bersama guru, wali kelas, sahabat, dan teman-teman pada hari terakhir sekolah membuat Elmi menyadari bahwa setiap pertemuan pada akhirnya akan dipisahkan oleh waktu.

Sebagai panitia penyelenggara, Elmi menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat banyak kekurangan selama pelaksanaan Gelar Pamit. Ia menyadari bahwa acara tersebut belum sempurna. Namun seluruh proses telah dilakukan dengan ketulusan, kerja sama, dan usaha terbaik yang mereka miliki.

Elmi juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, mulai dari kepala sekolah, guru-guru, warga sekolah, wali siswa, masyarakat sekitar, seluruh panitia, hingga Bapak Rendi yang terus mendampingi mereka sampai acara selesai.

Dan untuk kakak-kakak KM8 Laksamana Malahayati, pesan Elmi terasa sederhana tetapi dalam:

Selamat atas kelulusannya.

Terima kasih karena telah menjadi bagian dari perjalanan dan cerita di sekolah ini. Semoga setiap langkah dimudahkan, cita-cita tercapai, dan suatu hari nanti mereka dapat kembali membawa kisah keberhasilan yang membanggakan.

Sebab pada akhirnya, seperti yang ingin disampaikan Elmi melalui tulisannya, sejauh apa pun seseorang pergi, sekolah akan selalu menjadi tempat pulang bagi setiap kenangan.

Tulisan ini merupakan karya Elmi Sampe, yang merekam Gelar Pamit KM8 Laksamana Malahayati dari sudut pandang siswa yang terlibat langsung dalam prosesnya. Di balik sebuah acara yang mungkin terlihat sederhana, ada banyak tangan yang bekerja, banyak waktu yang dikorbankan, dan banyak kenangan yang akhirnya menjadi bagian dari perjalanan sekolah.