“Tragedi 98 adalah bukti bahwa ketika ketimpangan sosial dibiarkan terlalu lama, rakyat tidak lagi turun ke jalan karena ingin melawan, tetapi karena merasa tidak lagi punya pilihan.” — Kang Suleng

Senin, 25 Mei 2026, menjadi salah satu hari yang menurut saya layak dicatat dalam perjalanan pendidikan di SMK Bakti Karya Parigi. Pada hari itu, Pengurus OSIS SMK Bakti Karya Parigi berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Pangandaran menyelenggarakan Titik Temu Edisi 7 dengan tema “Kupas Tragedi 98” di Auditorium SMK Bakti Karya Parigi.

Bagi saya, Titik Temu bukan sekadar kegiatan diskusi. Ia adalah ruang belajar bersama. Sebuah ruang yang sengaja dibuka agar pelajar memiliki kesempatan untuk membicarakan hal-hal yang terkadang dianggap terlalu berat, terlalu sensitif, atau bahkan terlalu jarang dibicarakan di lingkungan sekolah.

Sejarah, persoalan sosial, demokrasi, kemanusiaan, hak asasi manusia, dan berbagai persoalan bangsa adalah bagian dari kehidupan yang seharusnya tidak hanya dibaca dalam buku pelajaran. Ada banyak hal yang perlu dibicarakan, dipertanyakan, dan dipahami dari berbagai sudut pandang.

Pada Edisi 7 ini, kami mencoba membuka percakapan tersebut melalui tema Tragedi 1998.

Kegiatan menghadirkan Syamsul Ma’arif, S.Sy., atau yang akrab disapa Kang Suleng, selaku Penggagas Komunitas Rumah Perjuangan 145 sebagai narasumber. Diskusi dipandu oleh Bayu Firman, mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Pangandaran, sebagai moderator, dan Nur Afiqa Zakirah sebagai MC.

Acara diawali dengan pembukaan, doa bersama, serta pengantar mengenai pentingnya memahami Tragedi 1998 sebagai salah satu bagian penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Bagi saya, membicarakan Reformasi 1998 tidak cukup jika hanya berhenti pada pergantian kekuasaan. Di balik peristiwa tersebut terdapat perjuangan masyarakat untuk mendapatkan demokrasi, kebebasan berbicara, keadilan, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Karena itu, generasi muda perlu memiliki kesempatan untuk mengenal sejarah secara lebih utuh. Bukan hanya menghafal tahun dan nama tokoh.

Tetapi memahami mengapa sebuah peristiwa terjadi, apa yang melatarbelakanginya, siapa yang terdampak, dan apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa tersebut hari ini.

Suasana kegiatan kemudian semakin hidup dengan penampilan orasi, pembacaan puisi, dan musik. Bagi saya, penampilan-penampilan tersebut bukan sekadar hiburan untuk mengisi acara. Semuanya menjadi bentuk ekspresi. Ada keresahan yang disampaikan, ada harapan yang dibawa, dan ada kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan serta demokrasi yang ingin disuarakan.

Kemudian tibalah pada sesi utama: talkshow dan diskusi bersama Kang Suleng.

Berbagai hal dibicarakan, mulai dari kondisi Indonesia menjelang 1998, lahirnya gerakan reformasi, hingga pentingnya generasi muda memahami sejarah secara utuh.

Yang menarik bagi saya adalah bagaimana diskusi tersebut tidak berhenti pada pertanyaan tentang masa lalu.

Para peserta justru membawa pembicaraan ke persoalan hari ini.

Muncul pertanyaan tentang krisis ingatan sejarah di era media sosial, persoalan hak asasi manusia yang belum sepenuhnya terselesaikan, hingga bagaimana melihat kondisi demokrasi Indonesia saat ini.

Diskusi berlangsung hangat. Para siswa tidak hanya duduk sebagai pendengar, tetapi ikut bertanya, menyampaikan pendapat, dan melakukan refleksi.

Antusiasme tersebut menjadi salah satu hal yang membuat saya merasa bahwa ruang seperti Titik Temu memang diperlukan.

Ketika pelajar diberikan ruang untuk bertanya, ternyata mereka memiliki banyak hal yang ingin diketahui.

Ketika mereka diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat, ternyata mereka juga memiliki kegelisahan terhadap keadaan di sekitarnya.

Namun ada satu hal yang cukup menarik sekaligus mengejutkan dalam pelaksanaan kegiatan kali ini.

Pada pagi hari sebelum kegiatan dimulai, panitia didatangi oleh beberapa pihak intel dari kepolisian yang melakukan pengawasan dan wawancara terkait jalannya diskusi. Kurang lebih empat orang hadir dan memantau kegiatan sejak awal hingga acara berlangsung.

Kehadiran mereka tentu sempat membuat panitia terkejut.

Mungkin karena tema yang kami angkat memang berkaitan dengan Tragedi 1998, sebuah bagian sejarah yang sampai hari ini masih menyimpan banyak pertanyaan dan sensitivitas.

Namun kegiatan tetap berjalan.

Tidak ada keributan. Tidak ada kekacauan. Diskusi berlangsung dengan kondusif dan peserta tetap mengikuti kegiatan dengan penuh semangat.

Justru dari situ saya kembali bertanya kepada diri sendiri: mengapa ruang belajar tentang sejarah bisa terasa begitu sensitif?

Mengapa membicarakan masa lalu terkadang membuat orang merasa perlu berhati-hati?

Bukankah salah satu tujuan mempelajari sejarah adalah agar kita memiliki keberanian untuk melihat kembali apa yang pernah terjadi, termasuk bagian-bagian yang mungkin tidak nyaman untuk dibicarakan?

Bagi saya, kejadian tersebut justru menjadi bagian dari refleksi dalam Titik Temu Edisi 7.

Ruang diskusi menjadi penting bukan karena semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Justru sebaliknya, ruang diskusi diperlukan agar perbedaan pandangan dapat dibicarakan dengan terbuka, kritis, dan bertanggung jawab.

Generasi muda perlu belajar bahwa berpikir kritis bukan berarti membenci negara.

Bertanya bukan berarti melawan.

Mengingat sejarah bukan berarti hidup di masa lalu.

Justru dengan memahami sejarah, kita memiliki kesempatan untuk menentukan masa depan dengan lebih baik.

Titik Temu Edisi 7 pada akhirnya bukan hanya tentang membicarakan Tragedi 1998.

Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa sejarah adalah bagian dari kehidupan hari ini. Apa yang terjadi pada masa lalu dapat membentuk cara kita melihat demokrasi, kebebasan, keadilan, dan kemanusiaan pada masa sekarang.

Saya berharap ruang seperti ini dapat terus tumbuh di lingkungan sekolah.

Sebab sekolah tidak seharusnya hanya menjadi tempat untuk mendapatkan nilai dan menyelesaikan tugas. Sekolah juga harus menjadi tempat bagi anak-anak muda untuk belajar memahami dunia, mempertanyakan sesuatu dengan kritis, mendengarkan pendapat yang berbeda, dan menemukan keberanian untuk menyampaikan pikirannya.

Hari ini, ketika membaca terkadang dianggap berbahaya, berpikir kritis bisa dipandang sebagai ancaman, dan diskusi mengenai sejarah tertentu masih dapat menimbulkan kekhawatiran, saya justru semakin percaya bahwa ruang belajar harus terus dibuka.

Bukan untuk menciptakan perlawanan tanpa arah. Tetapi untuk menciptakan generasi yang memahami apa yang mereka bicarakan. Sebab mungkin kekuasaan memang akan selalu merasa tidak nyaman ketika masyarakat mulai memahami sejarahnya sendiri. Dan mungkin di situlah makna Titik Temu. Kita bertemu bukan untuk selalu sepakat. Kita bertemu untuk belajar. Untuk mendengar. Untuk bertanya. Untuk berpikir. Dan pada akhirnya, untuk tumbuh bersama.

Di titik temu inilah kita belajar menemukan makna—bahwa sejarah bukan hanya sesuatu yang telah terjadi, tetapi sesuatu yang seharusnya membantu kita menentukan bagaimana masa depan akan dijalani.