Catatan Perjalanan Relawan
Mengatasi SePele Bersama InstoMotor. Kereta. Lalu berganti motor lagi.
Halo, kenalan dulu, saya Indah Riadiani relawan di dua yayasan pendidikan. Saya mengajar anak-anak marginal di pinggiran Jakarta, juga mengelola komunikasi digital yayasan.
Pukul 05.30 hari minggu, saya sudah berangkat naik motor menuju stasiun untuk mengejar kereta pagi. Kemudian berlarian memburu gerbong kosong menuju Stasiun Manggarai. Setelahnya, saya masih harus berganti kereta rute blue line yang selalu padat ketika weekend. Bayangkan, si anak kabupaten yang imut ini berdempetan dan berdesakan dengan para anker profesional. Memang tidak selihai mereka, tapi saya bangga karena sanggup bergelantungan sampai stasiun tujuan.
Setelah terpapar angin dari AC kereta, perjalanan mingguan sejauh 52 km itu masih mengharuskan saya lanjut naik ojek dengan menerobos debu dan sengatan matahari. Setiap minggu tujuannya berbeda-beda. Bisa ke RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak), bisa juga ke kolong jembatan. Tergantung lokasi yang dijadwalkan.
Percayalah saya selalu happy menjalaninya. Karena entah kenapa, perjalanan menuju ke sana selalu terasa sepadan ketika akhirnya sampai. Semua terbayar ketika melihat wajah-wajah antusias yang sudah menunggu untuk belajar. So, berganti-ganti kendaraan, duduk lama di atas motor, melewati jalanan yang panas dan berdebu, bukan sesuatu yang wah bagi saya. Lagi pula, ini tidak ada apa-apanya dengan perjalanan yang ditempuh oleh guru-guru pedalaman menuju sekolah tempat mereka bertugas. Mereka harus menyeberangi sungai dengan perahu seadanya, menaiki jembatan tali, bahkan menerobos medan yang berbahaya. Saya hanya menempuh perjalanan puluhan kilometer, itu pun dengan kendaraan yang mumpuni. Tapi satu hal yang saya rasakan sama: ada anak-anak yang menunggu untuk belajar. Dan ketika tahu ada yang menunggu, sejauh apa pun perjalanannya, rasanya selalu ada alasan untuk tetap sampai.
Ada satu perjalanan yang saya ingat sampai sekarang…
Hari itu adalah salah satu hari yang sudah lama saya tunggu. Setelah cukup lama tidak bertemu anak-anak karena pandemi COVID-19, akhirnya saya bisa kembali datang dan bertemu mereka secara langsung. Sebelumnya kami hanya bertemu via zoom, belajar online, dan berinteraksi secara terbatas. Maka jika saat itu saya sangat bersemangat, itu wajar sekali.
Namun di tengah perjalanan, tepatnya saat sedang dibonceng ojek, mata saya seperti ada yang mengganjal. Kemudian mulai terasa perih dan kering. Semakin lama, rasanya semakin mengganggu. Sampai sempat muncul monolog di kepala, “Ini mata kenapa susah melek? Ko perih banget ya kena angin? Apa balik lagi aja, ya?”
Padahal saya sudah menempuh perjalanan sejauh itu. Anak-anak juga sudah menunggu. Ada pelajaran dan permainan baru tentang self-esteem yang sudah saya siapkan untuk mereka.
Saya akhirnya meminta Pak Ojek untuk berhenti sebentar. Saya coba mengedip-ngedipkan mata sekuat mungkin beberapa kali, berharap mata ini kembali jreng. Ternyata salah besar. Bukannya membaik, mata malah terasa semakin capek. Perpaduan antara sepet, perih, lelah karena silau matahari, angin dan debu membuat saya berharap mata ini mengeluarkan air mata. Sayangnya, saya sedang tidak sedih. Jadi, air mata pun sesulit itu dipaksa keluar. Hwaaa..
Bapak Ojek sampai berkali-kali bertanya, “kenapa Neng matanya?” Paham betul Pak Ojek sedang menunggu saya, segera saya tawarkan untuk menyelesaikan perjalanan dan membayarnya. Kondisi saya saat itu belum sanggup membuka mata, karena perih kalau terkena angin. Namun tanpa saya duga, Pak Ojek malah menawarkan untuk mengantar saya ke apotek terdekat. Saya mengangguk dan menurut. Sampai di apotek, saya langsung meminta rekomendasi obat atau apa pun yang bisa membantu mengatasi rasa tidak nyaman di mata saya. Mba apoteker kemudian memberikan Insto Dry Eyes. Saya sangat ingat saat itu Insto yang saya terima warna kemasannya masih ada warna hijau-hijaunya. Sekarang, Insto Dry Eyes hadir dengan new packaging yang lebih segar, tetapi tetap mudah dikenali.
Saya pun meneteskan Insto Dry Eyes, mengedip-ngedipkan mata, lalu beristirahat sebentar. Tidak lama. Dalam beberapa menit, mata saya yang tadinya perih dan kering perlahan membaik. Kalau dianalogikan, mungkin mata ini seperti tenggorokan yang kehausan, butuh air. Ketika mata terlalu lama terkena angin kering AC di kereta, lalu terpapar silaunya matahari dan debu jalanan, tentu saja si mata jadi ngambek. Setelah diteteskan Insto, Alhamdulillah mata terasa lebih nyaman sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Untungnya lagi, Pak Ojek mau menunggu. Dan akhirnya, perjalanan pun kembali dilanjutkan. Saya pun sampai, yeay Alhamdulillah!
Begitu bertemu anak-anak, rasanya semua lelah dan perjalanan panjang tadi terbayar. Melihat mereka sudah siap belajar dan bermain bersama, pikiran untuk pulang yang tadi sempat muncul rasanya jadi lucu sendiri. Ternyata, memang ada perjalanan yang harus diperjuangkan sampai selesai.
Ternyata, SePeLe Tidak Selalu Sepele
Dari kejadian itu saya baru sadar, ternyata rasa sepet, perih, dan lelah tidak boleh begitu saja dianggap sepele. Pemicunya pun dekat sekali dengan keseharian. Angin, udara yang kering, paparan debu, panas matahari bisa memperburuk gejala mata kering. Begitu juga ketika mata terlalu lama digunakan untuk melihat sesuatu dan kita jadi lebih jarang berkedip.
Kalau dipikir-pikir, perjalanan saya waktu itu memang seperti paket lengkap. Berdiri cukup lama di kereta ber-AC, kemudian melanjutkan perjalanan dengan motor melewati jalanan yang panas dan berdebu. Mata terus terkena angin, sementara cahaya matahari juga cukup menyilaukan. Awalnya saya mengira mata hanya lelah karena perjalanan. Ternyata, rasa lelah pada mata juga bisa berkaitan dengan mata kering.
Saya kemudian teringat lagi dengan apa yang saya rasakan hari itu. SEpet. PErih. LElah. Kalau disingkat SePeLe. Kedengarannya memang sepele. Bahkan saat itu saya sendiri sempat berpikir, “Paling nih mata cuma capek karena perjalanan.” Ternyata, anggapan itu tidak sepenuhnya tepat.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di Acta Ophthalmologica oleh Toda, Fujishima, dan Tsubota menemukan bahwa kelelahan mata menjadi salah satu keluhan yang paling banyak dilaporkan oleh pasien yang kemudian terdiagnosis mata kering. Memang bukan berarti setiap mata yang lelah pasti mengalami mata kering. Tapi penelitian tersebut membuat saya paham bahwa #MataSePeLeJanganSepelein. Sejak saat itu, saya mulai lebih peka terhadap “alarm kecil” dari mata. Ketika mata mulai terasa sepet, perih, panas, atau cepat lelah, saya memilih untuk berhenti sejenak, mengistirahatkan mata, dan menjauh dari paparan angin atau debu secara langsung. Tahan diri juga agar tidak mengucek mata. Selain itu, ketika gejala mata kering muncul, langsung aja deh tetesin Insto Dry Eyes !
Buat saya, ini bukan sekadar soal punya obat tetes mata di dalam tas. Tapi saya jadi belajar bahwa mata juga perlu diperhatikan dan dijaga, sama seperti bagian tubuh lainnya.
Selama mata baik-baik saja, semua itu terasa biasa. Kita baru sadar betapa pentingnya mata ketika untuk membuka mata saja rasanya sangat tidak nyaman. Dan mungkin itu pelajaran terbesar yang saya bawa dari perjalanan panjang hari itu.
mata berkedip setiap menit untuk membantu menjaga permukaannya tetap lembab.
3 LAPISAN membentuk tear film: Minyak • Air • Mukus
0 PEMBULUH DARAH di kornea. sehingga kornea bergantung pada air mata untuk mendapatkan nutrisi.
Karena Mata Sepenting Itu
Sebagai fasilitator, saya tidak hanya menggunakan mata untuk membaca materi yang akan saya ajarkan atau melihat aktivitas anak-anak. Saya menggunakan mata untuk melihat mereka. Melihat wajah mereka ketika penasaran, melihat mata mereka berbinar ketika memahami sesuatu, melihat senyum yang muncul ketika mereka berhasil, bahkan melihat ekspresi mereka ketika sedang berusaha memahami sesuatu yang baru.
Mungkin itulah kenapa saya baru sadar betapa pentingnya mata. Karena bagi saya, mata bukan sekadar alat untuk melihat. Mata membantu saya menangkap momen-momen kecil yang membuat perjalanan panjang untuk menemui mereka terasa begitu berarti.
Karena ternyata, mata memang bekerja jauh lebih banyak daripada yang selama ini saya sadari. Bukan hanya ketika kita sedang beraktivitas, mengajar, atau melakukan perjalanan. Bahkan ketika kita merasa sedang benar-benar mengistirahatkan tubuh, mata pun ternyata belum sepenuhnya berhenti bekerja.
Saat kita tidur saja, mata ternyata tidak sepenuhnya diam. Pada fase tertentu dalam tidur, terutama rapid eye movement (REM), bola mata tetap melakukan gerakan cepat di balik kelopak mata. National Heart, Lung, and Blood Institute mencatat bahwa gerakan mata cepat ini memang menjadi ciri khas dari fase tidur REM. Jadi, kalau selama ini saya membayangkan mata benar-benar “off” begitu kita tidur, ternyata tidak sesederhana itu.
Saat terjaga, tentu saja pekerjaan mata jauh lebih berat. Mata bekerja bersama kornea, lensa, retina, dan saraf optik untuk menangkap cahaya lalu mengubahnya menjadi informasi yang diproses otak sebagai penglihatan. Kornea bukan sekadar bagian bening di depan mata. Bagian ini membantu memfokuskan cahaya sekaligus melindungi bagian dalam mata. Agar proses melihat tetap nyaman, permukaan mata juga perlu tetap lembab. Di sinilah air mata punya peran penting. Air mata membantu menjaga permukaan mata tetap basah dan halus, membantu penglihatan tetap jelas, sekaligus melindungi mata dari debu dan benda yang dapat membuat iritasi.
Menariknya, ternyata air mata juga bekerja tanpa harus menunggu kita menangis. Setiap kali berkedip, lapisan tipis air mata atau tear film kembali tersebar di permukaan mata. Lapisan inilah yang membantu menjaga permukaan mata tetap nyaman. Ketika produksi air mata tidak cukup atau air mata menguap terlalu cepat, keseimbangan tersebut dapat terganggu dan muncul keluhan seperti mata terasa kering, sepet atau seperti berpasir. Jadi, mungkin selama ini saya memang terlalu menganggap remeh pekerjaan mata. Ia tidak selalu meminta perhatian, tapi ketika mulai terasa sepet, perih, atau lelah, itu mungkin waktunya saya berhenti sebentar dan peka terhadap sinyal yang disampaikan mata.
Sumber: https://www.insto.co.id
SePeLe hari itu membuat saya belajar satu hal sederhana: jangan tunggu mata benar-benar tidak nyaman baru kita peduli. Ada banyak hal kecil yang ternyata bisa dilakukan untuk menjaga mata tetap nyaman. Dan ketika gejalanya sudah muncul, jangan panik, segera tetesin Insto Dry Eyes!
Kenalan Lebih Dekat dengan Insto Dry Eyes
Setelah kejadian hari itu, saya jadi tidak hanya mengenal Insto sebagai “obat tetes mata yang saya beli di apotek karena mata sedang bermasalah”. Saya jadi penasaran juga, sebenarnya apa yang membuat #InstoDryEyes cocok dengan kondisi yang saya alami waktu itu?
Ternyata, Insto punya beberapa varian dengan fungsi yang berbeda. Ada Insto Regular untuk mata merah akibat iritasi ringan, Insto Cool untuk mata merah akibat iritasi ringan dengan sensasi dingin, dan ada Insto Dry Eyes yang memang ditujukan agar #BebasMataKering.
Nah, ini yang relevan dengan pengalaman saya. Insto Dry Eyes digunakan untuk memberikan efek seperti air mata, membantu mengatasi gejala kekeringan pada mata, serta meringankan iritasi mata yang disebabkan oleh kekurangan produksi air mata.
Bukan sekadar membuat mata terasa “basah”, tapi memberikan kesegaran tambahan ketika mata mengalami gejala kekeringan. Dan yang membuat saya semakin relate adalah kandungan bahan aktifnya.
Insto Dry Eyes New Packaging
Insto Dry Eyes mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) 3,0 mg dan Benzalkonium Chloride 0,1 mg. HPMC inilah yang berperan sebagai bahan aktif seperti air mata. Nama HPMC memang terdengar seperti nama yang hanya akan saya temui di laboratorium, bukan sesuatu yang akan saya ingat terus. Tapi sekarang saya tahu satu hal sederhana, bahwa bahan aktif tersebut memang berkaitan dengan fungsi Insto Dry Eyes sebagai pelumas mata.
Produk ini tersedia dalam ukuran 7,5 ml, ukuran yang menurut saya cukup praktis untuk dibawa bepergian. Apalagi aktivitas saya memang hampir selalu berpindah-pindah kendaraan. Tinggal slup, masukkan Insto ke tas!
Cara Menggunakannya Juga Tidak Boleh Asal
Dari pengalaman itu, saya juga belajar bahwa menggunakan Insto tidak cukup hanya dengan “tetes, selesai”. Ada aturan yang perlu diperhatikan.
Informasi resmi Insto Dry Eyes mencantumkan bahwa lensa kontak perlu dilepas saat menggunakan produk ini. Lensa kontak dapat digunakan kembali minimal 15 menit setelah obat diteteskan. Insto juga mencantumkan keterangan untuk tidak digunakan rutin dalam jangka panjang.
Jadi, kalau sedang menggunakan lensa kontak, jangan lupa perhatikan aturan tersebut, ya! Buat saya, informasi seperti ini penting ya untuk tetap memahami cara pakainya.
Karena Ada Perjalanan yang Harus Diselesaikan
Hari itu, begitu sampai, saya dan delapan teman relawan lainnya langsung membagi tugas. Kami membawakan materi tentang self-esteem untuk anak-anak. Sengaja dipilih tema ini karena banyak dari mereka tumbuh di lingkungan yang membuat mereka jarang mendengar bahwa mereka berharga, bahwa apa yang mereka rasakan dan pikirkan itu penting. Kami ingin mereka tahu, nilai diri seseorang tidak ditentukan dari mana ia berasal atau apa yang ia punya.
Tapi tentu saja, self-esteem bukan topik yang bisa disampaikan hanya lewat ceramah. Jadi kami mengemasnya lewat permainan. Ada sesi di mana anak-anak bergantian bercerita tentang hal yang mereka banggakan dari diri mereka sendiri, sesederhana “aku jago gambar loh kak” atau “aku selalu laku jualan donatnya”. Ada juga permainan yang mengharuskan mereka saling memuji teman di sebelahnya, dan permainan yang membuat kami semua tertawa lepas sambil bernyanyi bersama.
Melihat mereka tertawa, bernyanyi, dan berebut giliran untuk bercerita, saya jadi ingat lagi kenapa mata ini penting untuk tetap sehat. Karena momen seperti itu, wajah-wajah yang tadinya malu-malu lalu perlahan berani angkat tangan, tidak akan pernah bisa saya rasakan penuh kalau saya memutuskan pulang di tengah jalan hari itu.
Perjalanan 52 kilometer dan mata SePeLe yang diselamatkan #InstoDryEyes itu akhirnya menjadi bagian dari satu cerita yang tidak akan saya lupakan. Saya bersyukur hari itu memilih untuk melanjutkan perjalanan. Karena pada akhirnya, yang paling saya ingat bukan rasa perih di mata, tetapi wajah anak-anak yang kembali saya temui, tawa mereka, dan momen ketika kami belajar bersama.
Kalau Kamu? Pernah mengalami mata kering saat di luar ruangan atau habis aktivitas panjang?
Atau punya cerita traveling sambil bawa Insto?
Share, yuk! Siapa tahu bisa saling belajar dari pengalaman kita!
Referensi tulisan:
-
- National Eye Institute. Dry Eye. Diakses dari https://www.nei.nih.gov/learn-about-eye-health/eye-conditions-and-diseases/dry-eye
- National Eye Institute. Causes of Dry Eye. Diakses dari https://www.nei.nih.gov/eye-health-information/eye-conditions-and-diseases/dry-eye/causes-dry-eye
- Insto. Insto Dry Eyes. Diakses dari https://insto.co.id/produk/insto-dry-eyes
- Toda, I., Fujishima, H., & Tsubota, K. (1993). Ocular fatigue is the major symptom of dry eye. Acta Ophthalmologica, 71(3), 347–352.
- National Heart, Lung, and Blood Institute. (2022). How Sleep Works: Sleep Phases and Stages. National Institutes of Health.
Dokumentasi pribadi penulis
Infografis oleh penulis


Wah Mbak, keren banget masih konsisten jadi fasil di sana. Itu untung ada insto ya, ternyata jauh banget kamu perjalanannya.
Iya kakak. Pokonya sekarang kalo mau berangkat ke sana kudu bawa Insto. Tau sendiri kan betapa tebalnya itu debu-debu jalanan. huhu
Teh, baru tau kalo penggunaan Insto itu beda-beda. Selama ini maen tetes tetes aja 🫠
Waduh.. iya beda2. Kan ada buat mata kering, ada yang buat iritasi, mata merah.. jadi harus dibaca detail tulisan di kemasannya ya.
Semangat ya jadi relawannya. Semoga dedikasinya terus bertumbuh dan bermanfaat untuk yang berhak
Indonesia butuh generasi muda seperti ini
Mbak Indah semoga sehat selalu dan aktivitas nya lancar
Naik kendaraan berganti-ganti di ibukota memang rawan kena polusi
Saya pernah nguli juga di Jabodetabek dan naik turun transum, dulu, sebelum jaman Ahok, jadi transum masih belum sebagus sekarang. Polusi nya gila-gilaan
Mata perih, hidung tersumbat itu risiko banget
Sedia obat tetes mata di ibukota dan sekitarnya bagi pejuang transum memang keharusan sih ya
Aamin ya Allah, terima kasih doa baiknya Teh. Semoga Teh Okti dan keluarga juga sehat selalu. Iya betul teh, polusi bikin mata kering ga nyaman. Kalo udah ga nyaman baru sadar deh betapa pentingnya kesehatan mata. Insto bener-bener jadi penolong pertama banget di saat2 genting.
Wii, Bravo mba Indaaahh, keren dan BANGGA BANGETTT ada anak muda Indonesia yang begitu semangaaatt jd relawan. Lanjutkaan ya Mbaa!
Dan memang kita semua, profesi apapun, umur berapapun terwajib nyetok INSTO Dry Eyes ini.
Kondisi mata sepet, lelah, ini ngga boleh dipandang sepele yak.
Terima kasih mba untuk kiriman semangatnya 🙂 betul betul betul, karena mata kering ga mandang profesi tertentu ya mba. Semua orang berpotensi untuk mengalami mata kering. Solusinya ya Insto Dry Eyes.
Kak halooow masih inget aku ga?
Hahahaha gimana bisa lupa coba aku…gimana kabarmu mba?
Mba indah, aku baca ini terharu iya, tapi juga salut bangettttt. Salut mba rela bolak balik 52 km demi mengajar anak2 ini ❤️❤️. Terharu Krn melihat wajah2 mereka yg happy banget bisa belajar 🥹🥹. Semoga bisa jadi pahala jariyah untuk mba yaaa 🤗🤗.
Bicara mata, aku seriiing mengalami mata kering lah, iritasi ringan lah, sampe skr jadi minus parah 😅. Dari awal kerja dulu, Krn sering naik gojek juga, mau ga mau paling seriiiing tuh kelilipan debu. Ujung2nya merah, gatel. Makanya dari dulu aku juga selalu bawa tetes mata di tas. Nyobain Macam2 merk, ttp insto yg paling nyaman. Akhirnya skr cuma pakai itu
Walau udh ga kerja, tp aku msh aktif traveling kan. Dan pernah kejadian juga mata kemasukan salju pas ada angin kencang. Pedihnya jangan tanya 🤣. Kalau ga ada insto, mungkin mata bakal iritasi beberapa hari. Kalau di LN aku agak susah juga nemuin apotek. Dan kalau Nemu pun blm tentu obat mata nya dijual bebas. Makanya LBH aman utk bawa sendiri dr JKT.
Aamin mba, terima kasih atas doanya. Betul mba aku malah ketakutan parah setelah banyak kejadian bikin mata lelah sama kering tuh. Takut mata rusak, sementara aku pun gamau pake kaca mata ataupun harus periksain mata ke dokter karena mata bermasalah. Pengennya sehat-sehat aja gitu matanya. aamiin
Serius 52 kilometer jaraknya? Itu mah kayak mau keluar kota yaa.
Hebat banget Kak Indah menempuh jarak sepanjang itu demi jadi relawan, demi senyum anak-anak di sana.
Dan memang benar, kudu sedia Insto dry eyes agar mata tidak iritasi di jalan.
Memang perjalanannya beda kabupaten beda provinsi mba wwkwk. malah kalo naek mobil itu total 56 km, terpangkas jauh karena naek kereta. Sejauh itu tantangannya memang ya macem2 buat mata, jadi memang kudu sedia Insto biar satset langsung tetes. Alhamdulillah mba, semoga disehatkan terus biar bisa datang terus ke sana. aamiiin
Masya Allah. Keren sekali yang dilakukan Mbak Indah ini. Rela menempuh perjalanan jauh, bergonta-ganti transportasi, untuk berbagi ilmu dan keceriaaan. Insya Allah menjadi ladang pahala yang amal jariyahnya terus mengalir. Terus semangat, Mbak Indah.
Aamiin, terima kasih Mas. InsyaAllah semangat teruuus.
Mbak, keren banget. Asli, aku bangga sama sepak terjang mu. Inspiratif sekali loh jadi relawan pendidikan yang ngajarin anak-anak. Semoga segala kebaikan menjadi pahala yaa, aamiin.
Nah, iya keseharian bergelut dengan motor dan KRL, so pasti menantang sekali. Debu jalanan itu nggak main-main, bertaburan dengan polusi udara juga.
Untungnya, ada penolong andalan yaa, Insto Dry Eyes emang bisa dibawa kemana aja, size nya kecil tapi powerfull banget.
Aamiin Mba, terima kasih banyak. Semoga Allah lancarkan terus jalannya.
Iya bener loh mba, kecil-kecil cabe rawit ini Insto
Mau di mana pun, entah itu di daerah pedalaman atau kota, yang namanya relawan untuk mencerdaskan anak bangsa tuh nggak pernah sepele, kakak. Selalu menakjubkan bagiku.
Nggak banyak anak muda yang mau mendedikasikan dirinya untuk pekerjaan mulia tersebut. Semangat kakak.
jangan sampai gejala mata kering mengganggu aktivitasnya sebagai relawan. Bagiku, Insto Dry Eyes memang akan sangat membantu.
MasyaAllah, makasih banyak kak atas apresiasinya. Semoga Allah mudahkan selalu jalannya. Bener kak, sedih banget kalo sampe mata kering tuh, ganggu aktivitas, makanya emang harus selalu sigap bawa Insto
Walaupun perjalanan yang ditempuh jauh, tetapi urusan menjaga kesehatan khususnya mata tetap harus dilakukan ya Kak.
Soalnya dengan mata sehat bisa produktif. Apalagi bisa selalu sedia membawa insto dry eyes yang praktis dan ukurannya yang paham banget deh buat dibawa dalam perjalanan
Betul sekali mba…memang tersedia di mana-mana ya Insto ini, di Indomaret, di apotek pasti ada. Tapi kalo udah urgent kan bagusnya udah bawa sendiri ya.
Mata sepet karena angin kalau dibiarkan lumayan mengganggu juga.
Jadi memang benar, urusan mata begini kadang kelihatannya sepele, tapi kalau sudah terasa nggak nyaman baru deh sadar kalau mata juga perlu diperhatikan. 😁
Sedia Insto Dry Eyes memang perlu, tinggal bawa kemana pun pergi dan saat berkegiatan apa pun.
Sepakat mba, kalau urusan mata mah aku juga gamau pilih yang asal. Mba apoteker aja rekomendasiin nya Insto Dry Eyes.
Setuju, salah satu malasahku tuh selain di depan gawai.Mataku juga lebih mudah kering kalau lama di ruangan ber AC.
Misal kayak di kereta itu. Bayangin setelah lama di kereta, masih harus pergi motoran berkilo-kilo pula.
Daannnn, syukurnya ada Insto yang kemasannya mungil jadi bisa dibawa kemana-mana. Saat dibutuhin tinggal keluarin. Nggak perlu ribet perkara mata di waktu yang nggak tepat. 😍
Iya mba, harusnya di kereta tuh merem aja kali ya, apalagi deketan sama AC hehehe. Rasanya hopeless banget kalo lagi di perjalanan eh gabawa Insto. Memang harus sedia selalu.
Kak Indah, salut sekali dengan misinya menjadi relawan pendidikan untuk anak-anak kurang beruntung di negeri kita, bahkan kak Indah rela menempuh perjalanan 52 km demi bisa bertemu anak-anak dan belajar bersama mereka. Asli sih, Indonesia butuh banyak anak muda seperti Kak Indah biar semua anak dapat mengakses pendidikan sebagai hak dasarnya.
Tapi memang perjalanan 52 km itu tak dekat, ya. Apalagi harus berganti moda transportasi mulai dari kereta sampai naik ojol juga. Sungguh perjuangan yang luar biasa. Keep healthy, ya Kak. Jangan lupa selalu bawa Insto, biar kalau kerasa ada gejala mata kering bisa langsung teratasi dan tak mengganggu akttivitas mengajar Kak Indah
MasyaAllah kak kebetulan aku sebenernya bukan anak muda lagi nih hehehe udah ibu-ibu. Tapi memang betul kak, siapapun kita, tua muda, kalau semua berpartisipasi di pendidikan, InsyaAllah pendidikan Indonesia akan membaik. Siap, terima kasih kak dukungannya, Insto akan selalu dibawa setiap bepergian jauh.
Mulia sekali kak aktivitasmu. Smg anak didiknya bs menerima manfaat dr hasil kerja kerasnya ini. Bahkan berangkat abis shubuh di hari Minggu loh utk ngajar anak2 di RPTRA. Salut bgt sih.
Smg dgn Insto Dry Eyes ini bikin mata nggak SePeLe lagi ya. Smg mkn sehat dan bs mengajar dgn penuh semangat.
MasyaAllah mas, sebenarnya di luar sana lebih banyak orang-orang yang berkontribusi luar biasa di pendidikan. Terima kasih mas apresiasinya. Aamin aamiin, saya juga berterima kasih banget sama Insto. kayanya itu kali pertama saya kenalan sama Insto. Setelahnya pernah juga ngalamin mata ga enak, tapi aku ga bawa Insto. Alhamdulillah suami selalu bawa Insto kemana-mana.
Jadi relawan itu banyak sekali tantangannya dan sebaiknya memang soal mata jangan salah ambil tindakan Jangan dianggap sepele karena berbahaya dan juga harus dijaga kesehatan matanya supaya bisa tetap berfungsi maksimal ketika melakukan kegiatan relawan di berbagai daerah
Setuju mas, kapok deh nyepelein mata kering tuh. Setelah riset jadi makin sadar deh kalo mata kering emang kondisi ga ideal yang harus ditangani.
Seru banget kegiatan relawannya. Apalagi mengajar anak2 gitu yaa. Selalu ada cerita, apalagi kalau udah dekat sama anak2nya.
Ternyata lokasinya ngajarnya jauh yaa, mesti naik kereta dulu sambung ojol.
Yeaahh, beneeerr, kondisi polusi udara plus asap kendaraan di jalanan sekarang makin lama makin mengkhawatirkan.
Bikin mata jadi sering terasa kek kering, ujung2nya gatal, sepet gitu ya.
Nah, sebaiknya sih, memang keluar2 apalagi naik kendaraan bermotor buat jagha2 ke mana2 bawa obat tetes Insto Dry Eyes aja. Belakangan apalagi, debu dan udara kotor bikin mata jadi mudah kena iritasi.
Betul mba, vibes semangatnya itu ada banget kalo ngajar anak-anak. Lagi sakit pun kaya lupa aja gitu kalo udah ketawa bareng mereka.
Iya mba, kalo aku mah urutannya perih dulu, kaya sakit banget kena angin tuh, jadi susah melek gitu. Alhamdulillah ada Insto huhu
Aku suka banget membaca pengalaman Mbak Indah di sini, terutama bagian perjalanan panjang naik motor, kereta, sampai ojek demi bertemu anak-anak yang sudah menunggu untuk belajar. Terus juga bikin sadar kalau gejala mata sepet, perih, dan lelah memang bisa muncul di situasi yang nggak kita duga, apalagi setelah terpapar AC, angin, debu, dan panas. Aku juga termasuk yang sering mengalami mata terasa kering setelah terlalu lama di depan layar atau beraktivitas seharian, dan memang rasanya bikin nggak nyaman banget. Part tentang mata yang begitu penting untuk melihat ekspresi anak-anak juga menurutku menyentuh banget huhu, karena ternyata menjaga mata bukan cuma soal kesehatan, tapi supaya kita tetap bisa menikmati momen-momen berharga di depan mata.
Mbaaa, iya banget 🥹 Kadang kita baru sadar pentingnya mata justru pas mulai kerasa gak nyaman. Apalagi buatku yang banyak berkegiatan di luar dan sering pindah-pindah tempat. Dan bagian tentang melihat ekspresi anak-anak itu emang salah satu hal yang paling bikin aku mikir juga. Jangan sampe hal-hal kaya mata sepet dan lelah malah bikin kita kehilangan momen yang sebenarnya berharga. ❤️
Seru banget baca perjalanan relawannya, Mbaaaaa..❤️Masya Allah Perjalanan 52 km tetap semangat karena ada anak-anak yang menunggu untuk belajar. Ga khawatir juga kalau mata sepet, perih, dan lelah karena sudah ada solusinya selalu sedia insto.. ternyata yang kita anggap sepele bisa jadi alarm dari tubuh.
Mbaaa, 52 km tuh kalo dipikir-pikir emang lumayan juga ya, hahaha. Tapi kalo udah ada anak-anak yang menunggu, rasanya capek di perjalanan jadi terbayar aja gitu pas sampai. Nah, soal mata ini juga jadi pelajaran buatku, ternyata jangan nunggu sampai benar-benar nggak nyaman baru peduli.
wah keren banget kamu dek menempuh perjalanan sejauh itu untuk menjalankan tugas membersamai anak-anak. Tapi untungnya sistem transportasi di Jakarta itu sudah bagus ya jadi kalau untuk perjalanan ke mana-mana itu nggak terlalu sulit. dan pastinya jangan lupa selalu sedia insto dry eyes buat mengatasi gejala mata kering akibat perjalanan yang jauh
Hehehe iya Kak, alhamdulillah perjalanannya terbantu banget sama banyak pilihan transportasi. Tinggal siap mental aja buat transit dan segala dramanya 😂 Tapi justru dari perjalanan itu aku jadi makin sadar kalau kondisi tubuh, termasuk mata, gak boleh diabaikan. Makasih sudah mampir dan ikut mengingatkan yaa
Keren mbak mau jadi relawan mengajar anak-anak marginal di pinggiran Jakarta dan bolak balik menempuh jarak yang jauh. Tantangannya memang naik motor itu mata sering nggak nyaman. Untung ada insto dry eyes.
Makasih Mbak ❤️ Iya, kalo naik motor apalagi perjalanan lumayan jauh, mata emang jadi salah satu yang paling capek ya. Awalnya kupikir cuma capek biasa, ternyata ada hal-hal kecil yang perlu lebih diperhatikan. Jadi sekarang kalau bepergian memang lebih aware sama kondisi mata juga. Hehehe.