Ada banyak hal yang membuat saya merasa bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Sebagai relawan di SMK Bakti Karya Parigi, saya sering menemukan proses belajar justru hadir melalui percakapan, perjumpaan, pengalaman, dan hubungan antarmanusia.
Salah satu momen yang kembali mengingatkan saya akan hal tersebut terjadi pada 6 Juli 2026, ketika kami mendapatkan kunjungan dari salah satu alumni Kelas Multikultural angkatan 3, Kak Welin, yang datang bersama temannya, Kak Chen.
Kehadiran mereka menjadi sesuatu yang istimewa. Bukan hanya karena mereka datang sebagai alumni, tetapi karena ada kesempatan untuk mempertemukan pengalaman masa lalu dengan kehidupan siswa yang sedang menjalani proses belajar hari ini.
Kegiatan tersebut diikuti oleh siswa KM 10 dan delapan siswa baru dari Sulawesi Selatan yang merupakan siswa KM 11. Dari sisi saya sebagai relawan, menarik sekali melihat bagaimana sebuah pertemuan sederhana dapat menjadi ruang belajar yang begitu cair. Tidak ada jarak yang terlalu kaku antara alumni, siswa, maupun pendamping. Semua bisa duduk bersama, saling mengenal, dan berbagi cerita.
Kegiatan dimulai dengan sesi perkenalan. Setiap peserta memperkenalkan diri, menyampaikan asal daerah, dan sedikit bercerita tentang dirinya. Bagi saya, sesi ini mungkin terlihat sederhana, tetapi justru dari sanalah keakraban mulai tumbuh.
Setelah perkenalan, kegiatan dilanjutkan dengan meditasi tubuh. Para peserta diajak memejamkan mata, mengatur napas, dan menyadari setiap gerakan tubuh. Suasana yang sebelumnya cukup ramai berubah menjadi tenang.
Saya melihat kegiatan tersebut sebagai sebuah jeda.
Di tengah rutinitas sekolah dan berbagai aktivitas yang mereka jalani, anak-anak diberikan ruang untuk berhenti sejenak, mengenali dirinya sendiri, dan menenangkan pikiran.
Setelah itu, Kak Chen berbagi pengalaman mengenai sistem pendidikan di China. Ia memperlihatkan beberapa foto suasana sekolah, ruang kelas, dan aktivitas para siswa di sana.
Cerita tentang bagaimana siswa di China dapat belajar hingga sekitar pukul 12 malam dan mempelajari sekitar sembilan mata pelajaran dalam satu hari tentu menjadi sesuatu yang menarik bagi para peserta. Bagi saya sendiri, cerita tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan memiliki wajah yang sangat beragam di setiap tempat.
Kita bisa belajar dari perbedaan tanpa harus selalu membandingkan mana yang lebih baik.
Setelah sesi berbagi, suasana kemudian dibuat lebih cair melalui permainan berhitung.
Peserta menghitung secara bergiliran hingga angka 18. Mereka yang mendapatkan angka yang sama kemudian menjadi pasangan dan diminta saling berbagi cerita tentang pengalaman masa kecil atau pengalaman hidup yang paling berkesan.
Kemudian, masing-masing peserta harus menceritakan kembali kisah pasangannya di depan kelompok.
Sebagai relawan, saya melihat kegiatan ini sebagai latihan sederhana untuk membangun empati.
Mendengarkan cerita orang lain membutuhkan perhatian. Kita tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga mencoba memahami pengalaman seseorang dari sudut pandangnya.
Beberapa peserta turut membagikan cerita mereka, termasuk Kak Aca, Rongky, Angel, dan kakak-kakak mahasiswa dari UGM. Dari berbagai cerita tersebut, terlihat bahwa setiap orang membawa pengalaman yang berbeda-beda, dan setiap pengalaman memiliki nilai yang bisa dipelajari.
Kegiatan kemudian berlanjut dengan sesi refleksi yang dipandu oleh Kak Welin. Para peserta mendapatkan selembar kertas untuk menuangkan pemikiran mereka sebelum kemudian dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil.
Saya melihat proses diskusi berlangsung dengan cukup hangat. Mereka saling bercerita mengenai pengalaman selama belajar di SMK Bakti Karya Parigi, membicarakan berbagai tantangan, pengalaman yang menyenangkan, serta hal-hal yang mereka rasakan selama berada di sekolah.
Obrolan yang awalnya terlihat sederhana perlahan menjadi percakapan yang lebih dalam.
Di sinilah saya kembali melihat bahwa ruang belajar tidak selalu membutuhkan papan tulis, buku, atau materi yang harus dicatat.
Kadang, ruang belajar cukup berupa beberapa orang yang duduk bersama dan bersedia mendengarkan satu sama lain.
Menjelang akhir kegiatan, Kak Welin menceritakan perjalanan dirinya ketika masih menjadi siswa di SMK Bakti Karya Parigi.
Bagi saya, sesi ini menjadi salah satu bagian yang paling menarik. Alumni bukan hanya berbicara tentang keberhasilan setelah meninggalkan sekolah, tetapi juga tentang proses, tantangan, dan pengalaman yang pernah membentuk dirinya.
Cerita seperti ini penting bagi siswa.
Sebab terkadang mereka membutuhkan contoh nyata dari seseorang yang pernah berada di tempat yang sama dengan mereka. Bahwa perjalanan setelah sekolah tidak selalu mudah. Bahwa ada banyak proses yang harus dijalani. Dan bahwa pengalaman selama menjadi siswa dapat menjadi bekal untuk perjalanan berikutnya.
Sebagai relawan, saya merasa perjumpaan antara alumni dan siswa seperti ini memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar kegiatan kunjungan.
Ada transfer pengalaman.
Ada pertukaran energi.
Ada proses saling menguatkan.
Alumni datang membawa cerita tentang perjalanan mereka, sementara siswa membawa rasa ingin tahu tentang masa depan yang sedang mereka hadapi.
Sebelum berpamitan, Kak Welin juga memberikan sejumlah uang kepada para siswa untuk membeli bahan makanan. Rencananya, kami akan mengadakan acara bakar-bakar dan ngaliwet bersama.
Sayangnya, Kak Welin dan Kak Chen harus kembali lebih dahulu sehingga tidak sempat mengikuti acara tersebut.
Namun bagi saya, perhatian sederhana yang mereka berikan tetap meninggalkan kesan. Ada kehangatan yang terasa dari cara alumni kembali hadir dan berbagi dengan adik-adik yang sedang menjalani perjalanan pendidikan di tempat yang pernah menjadi bagian dari hidup mereka.
Mungkin inilah salah satu hal yang menarik dari menjadi relawan.
Saya datang ke Bakti Karya dengan harapan dapat berbagi sesuatu, tetapi berkali-kali justru merasa menjadi orang yang belajar.
Belajar dari anak-anak yang berani keluar dari zona nyaman.
Belajar dari alumni yang kembali membawa cerita.
Belajar dari pertemuan-pertemuan kecil yang memperlihatkan bahwa pendidikan sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan.
Hari itu kembali mengingatkan saya bahwa sekolah bukan hanya tempat seseorang mendapatkan pengetahuan, tetapi juga tempat bertumbuh.
Ada orang-orang yang datang untuk belajar, ada yang datang untuk berbagi, dan ada pula yang datang untuk mendampingi.
Namun dalam prosesnya, semua bisa saling belajar.
Kunjungan Kak Welin dan Kak Chen menjadi salah satu contoh sederhana bagaimana sebuah perjalanan pendidikan dapat terus terhubung meskipun seseorang sudah meninggalkan bangku sekolah.
Yang pernah diterima dapat dibagikan kembali.
Yang pernah dipelajari dapat diteruskan.
Dan pengalaman yang dahulu membentuk seseorang dapat menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
Terima kasih kepada Kak Welin dan Kak Chen atas waktu, cerita, pengalaman, dan perhatian yang dibagikan kepada anak-anak.
Semoga perjalanan kalian terus dipenuhi kesempatan untuk belajar dan berbagi.
Dan semoga suatu hari nanti, anak-anak yang hari ini duduk mendengarkan cerita kalian akan kembali ke Bakti Karya membawa cerita mereka sendiri.
Sebab mungkin begitulah pendidikan terus bertumbuh: dari satu orang kepada orang lain, dari satu pengalaman kepada pengalaman berikutnya, dan dari satu generasi kepada generasi yang datang setelahnya.