Catatan Perjalanan Relawan
Mengatasi SePele Bersama InstoMotor. Kereta. Lalu berganti motor lagi.
Halo, kenalan dulu, saya Indah Riadiani relawan di dua yayasan pendidikan. Saya mengajar anak-anak marginal di pinggiran Jakarta, juga mengelola komunikasi digital yayasan.
Pukul 05.30 hari minggu, saya sudah berangkat naik motor menuju stasiun untuk mengejar kereta pagi. Kemudian berlarian memburu gerbong kosong menuju Stasiun Manggarai. Setelahnya, saya masih harus berganti kereta rute blue line yang selalu padat ketika weekend. Bayangkan, si anak kabupaten yang imut ini berdempetan dan berdesakan dengan para anker profesional. Memang tidak selihai mereka, tapi saya bangga karena sanggup bergelantungan sampai stasiun tujuan.
Setelah terpapar angin dari AC kereta, perjalanan mingguan sejauh 52 km itu masih mengharuskan saya lanjut naik ojek dengan menerobos debu dan sengatan matahari. Setiap minggu tujuannya berbeda-beda. Bisa ke RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak), bisa juga ke kolong jembatan. Tergantung lokasi yang dijadwalkan.
Percayalah saya selalu happy menjalaninya. Karena entah kenapa, perjalanan menuju ke sana selalu terasa sepadan ketika akhirnya sampai. Semua terbayar ketika melihat wajah-wajah antusias yang sudah menunggu untuk belajar. So, berganti-ganti kendaraan, duduk lama di atas motor, melewati jalanan yang panas dan berdebu, bukan sesuatu yang wah bagi saya. Lagi pula, ini tidak ada apa-apanya dengan perjalanan yang ditempuh oleh guru-guru pedalaman menuju sekolah tempat mereka bertugas. Mereka harus menyebrangi sungai dengan perahu seadanya, menaiki jembatan tali, bahkan menerobos medan yang berbahaya. Saya hanya menempuh perjalanan puluhan kilo meter, itu pun dengan kendaraan yang mumpuni, sementara ada guru-guru lain yang harus menempuh perjalanan jauh lebih berat daripada saya. Tapi satu hal yang saya rasakan sama: ada anak-anak yang menunggu untuk belajar. Dan ketika tahu ada yang menunggu, sejauh apa pun perjalanannya, rasanya selalu ada alasan untuk tetap sampai.
Ada satu perjalanan yang saya ingat sampai sekarang…
Hari itu adalah salah satu hari yang sudah lama saya tunggu. Setelah cukup lama tidak bertemu anak-anak karena pandemi COVID-19, akhirnya saya bisa kembali datang dan bertemu mereka secara langsung. Sebelumnya kami hanya bertemu via zoom, belajar online, dan berinteraksi secara terbatas. Maka jika saat itu saya sangat bersemangat, itu wajar sekali.
Namun di tengah perjalanan, tepatnya saat sedang dibonceng ojek, mata saya seperti ada yang mengganjal. Kemudian mulai terasa perih dan kering. Semakin lama, rasanya semakin mengganggu. Sampai sempat muncul monolog di kepala, “Ini mata kenapa susah melek? Ko perih banget ya kena angin? Apa balik lagi aja, ya?”
Padahal saya sudah menempuh perjalanan sejauh itu. Anak-anak juga sudah menunggu. Ada pelajaran dan permainan baru tentang self-esteem yang sudah saya siapkan untuk mereka.
Saya akhirnya meminta Pak Ojek untuk berhenti sebentar. Saya coba mengedip-ngedipkan mata sekuat mungkin beberapa kali, berharap mata ini kembali jreng. Ternyata salah besar. Bukannya membaik, mata malah terasa semakin capek. Perpaduan antara sepet, perih, dan lelah karena silau matahari, angin dan debu membuat saya berharap mata ini mengeluarkan air mata. Sayangnya, saya sedang tidak sedih. Jadi, air mata pun sesulit itu dipaksa keluar. Hwaaa..
Bapak Ojek sampai berkali-kali bertanya, “kenapa Neng matanya?” Paham betul Pak Ojek sedang menunggu saya, segera saya tawarkan untuk menyelesaikan perjalanan dan membayarnya. Kondisi saya saat itu belum sanggup membuka mata, karena perih kalau terkena angin. Namun tanpa saya duga, Pak Ojek malah menawarkan untuk mengantar saya ke apotek terdekat. Saya mengangguk dan menurut. Sampai di apotek, saya langsung meminta rekomendasi obat atau apa pun yang bisa membantu mengatasi rasa tidak nyaman di mata saya. Mba apotek kemudian memberikan Insto Dry Eyes. Saya sangat ingat saat itu Insto yang saya terima warna kemasannya masih ada warna hijau-hijaunya. Belum kemasan baru seperti sekarang dengan warna biru muda yang dominan.
Saya pun meneteskan insto, mengedip-ngedipkan mata, lalu beristirahat sebentar. Tidak lama. Dalam beberapa menit, mata saya yang tadinya perih dan kering perlahan membaik. Kalau dianalogikan, mungkin mata ini seperti tenggorokan yang kehausan, butuh air. Ketika mata terlalu lama terkena angin kering AC di kereta, lalu terpapar silaunya matahari dan debu jalanan, tentu saja si mata jadi ngambek. Setelah diteteskan Insto, Alhamdulillah mata terasa lebih nyaman sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Untungnya lagi, Pak Ojek mau menunggu. Dan akhirnya, perjalanan pun kembali dilanjutkan. Saya pun sampai, yeay Alhamdulillah!
Begitu bertemu anak-anak, rasanya semua lelah dan perjalanan panjang tadi terbayar. Melihat mereka sudah siap belajar dan bermain bersama, pikiran untuk pulang yang tadi sempat muncul rasanya jadi lucu sendiri. Ternyata, memang ada perjalanan yang harus diperjuangkan sampai selesai.
Ternyata, SePeLe Tidak Selalu Sepele
Dari kejadian itu saya baru sadar, ternyata rasa sepet, perih, dan lelah tidak boleh begitu saja dianggap sepele. Pemicunya pun dekat sekali dengan keseharian. Angin, udara yang kering, paparan debu, panas matahari bisa memperburuk gejala mata kering. Begitu juga ketika mata terlalu lama digunakan untuk melihat sesuatu dan kita jadi lebih jarang berkedip.
Kalau dipikir-pikir, perjalanan saya waktu itu memang seperti paket lengkap. Berdiri cukup lama di kereta ber-AC, kemudian melanjutkan perjalanan dengan motor melewati jalanan yang panas dan berdebu. Mata terus terkena angin, sementara cahaya matahari juga cukup menyilaukan. Awalnya saya mengira mata hanya lelah karena perjalanan. Ternyata, rasa lelah pada mata juga bisa berkaitan dengan mata kering.
Saya kemudian teringat lagi dengan apa yang saya rasakan hari itu. SEpet. PErih. LElah. Kalau disingkat SePeLe. Kedengarannya memang sepele. Bahkan saat itu saya sendiri sempat berpikir, “Paling nih mata cuma capek karena perjalanan.” Ternyata, anggapan itu tidak sepenuhnya tepat.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di Acta Ophthalmologica oleh Toda, Fujishima, dan Tsubota menemukan bahwa kelelahan mata menjadi salah satu keluhan yang paling banyak dilaporkan oleh pasien yang kemudian terdiagnosis mata kering.
Memang bukan berarti setiap mata yang lelah pasti mengalami mata kering. Tapi penelitian tersebut membuat saya paham bahwa #MataSePeLeJanganSepelein. Sejak saat itu, saya mulai lebih peka terhadap “alarm kecil” dari mata. Ketika mata mulai terasa sepet, perih, panas, atau cepat lelah, saya memilih untuk berhenti sejenak, mengistirahatkan mata, dan menjauh dari paparan angin atau debu secara langsung. Saya juga berusaha tidak mengucek mata.
Selain itu, ketika gejala mata kering muncul, Insto Dry Eyes adalah penolong pertama saya yang bantu meredakan rasa tidak nyaman tersebut.
Buat saya, ini bukan sekedar soal punya obat tetes mata di dalam tas. Tapi saya jadi belajar bahwa mata juga perlu diperhatikan dan dijaga, sama seperti bagian tubuh lainnya. Karena kita kan menggunakan mata hampir sepanjang hari.
Untuk melihat jalan ketika bepergian. Untuk membaca materi ketika menyiapkan pembelajaran. Untuk melihat wajah anak-anak ketika mereka sedang belajar. Bahkan untuk melihat ekspresi mereka ketika akhirnya berhasil memahami sesuatu yang sebelumnya terasa sulit.
Selama mata baik-baik saja, semua itu terasa biasa. Kita baru sadar betapa pentingnya mata ketika untuk membuka mata saja rasanya sangat tidak nyaman. Dan mungkin itu pelajaran terbesar yang saya bawa dari perjalanan panjang hari itu.
mata berkedip setiap menit untuk membantu menjaga permukaannya tetap lembap.
3 LAPISAN membentuk tear film: Minyak • Air • Mukus
0 PEMBULUH DARAH di kornea. sehingga kornea bergantung pada air mata untuk mendapatkan nutrisi.
Karena Mata Sepenting Itu
Selama ini saya ataupun kamu, pasti menganggap bahwa mata adalah bagian tubuh yang akan selalu baik-baik aja. Padahal, hampir semua hal yang kita lakukan dalam keseharian melibatkan mata. Kita menggunakannya setiap hari sampai lupa bahwa ada begitu banyak hal dalam hidup yang hanya bisa kita nikmati karena kita bisa melihat.
Sebagai fasilitator, saya tidak hanya menggunakan mata untuk membaca materi yang akan saya ajarkan atau melihat aktivitas anak-anak. Saya menggunakan mata untuk melihat mereka. Melihat wajah mereka ketika penasaran, melihat mata mereka berbinar ketika memahami sesuatu, melihat senyum yang muncul ketika mereka berhasil, bahkan melihat ekspresi mereka ketika sedang berusaha memahami sesuatu yang baru.
Mungkin itulah kenapa saya baru sadar betapa pentingnya mata. Karena bagi saya, mata bukan sekadar alat untuk melihat. Mata membantu saya menangkap momen-momen kecil yang membuat perjalanan panjang untuk menemui mereka terasa begitu berarti.
Karena itu, pengalaman SePeLe hari itu membuat saya berpikir ulang. Mata bukan hanya tentang bisa melihat, tetapi tentang bisa hadir sepenuhnya dalam momen yang kita jalani. Saya ingin tetap bisa melihat jalan menuju tempat mereka belajar, melihat wajah-wajah yang sudah menunggu, dan menyaksikan senyum mereka ketika belajar bersama. Maka, menjaga mata bukan lagi sekadar soal kenyamanan bagi saya, tetapi juga bagian dari menjaga kesempatan untuk terus menemani mereka.
Karena ternyata, mata memang bekerja jauh lebih banyak daripada yang selama ini saya sadari. Bukan hanya ketika kita sedang beraktivitas, mengajar, atau melakukan perjalanan. Bahkan ketika kita merasa sedang benar-benar mengistirahatkan tubuh, mata pun ternyata belum sepenuhnya berhenti bekerja.
Saat kita tidur saja, mata ternyata tidak sepenuhnya diam. Pada fase tertentu dalam tidur, terutama rapid eye movement (REM), bola mata tetap melakukan gerakan cepat di balik kelopak mata. National Heart, Lung, and Blood Institute mencatat bahwa gerakan mata cepat ini memang menjadi ciri khas dari fase tidur REM. Jadi, kalau selama ini saya membayangkan mata benar-benar “off” begitu kita tidur, ternyata tidak sesederhana itu.
Saat terjaga, tentu saja pekerjaan mata jauh lebih berat. Mata bekerja bersama kornea, lensa, retina, dan saraf optik untuk menangkap cahaya lalu mengubahnya menjadi informasi yang diproses otak sebagai penglihatan. Kornea bukan sekadar bagian bening di depan mata. Bagian ini membantu memfokuskan cahaya sekaligus melindungi bagian dalam mata. Agar proses melihat tetap nyaman, permukaan mata juga perlu tetap lembap. Di sinilah air mata punya peran penting. Air mata membantu menjaga permukaan mata tetap basah dan halus, membantu penglihatan tetap jelas, sekaligus melindungi mata dari debu dan benda yang dapat membuat iritasi.
Menariknya, ternyata air mata juga bekerja tanpa harus menunggu kita menangis. Setiap kali berkedip, lapisan tipis air mata atau tear film kembali tersebar di permukaan mata. Lapisan inilah yang membantu menjaga permukaan mata tetap nyaman. Ketika produksi air mata tidak cukup atau air mata menguap terlalu cepat, keseimbangan tersebut dapat terganggu dan muncul keluhan seperti mata terasa kering, sepet atau seperti berpasir. Jadi, mungkin selama ini saya memang terlalu menganggap remeh pekerjaan mata. Ia tidak selalu meminta perhatian, tapi ketika mulai terasa sepet, perih, atau lelah, itu mungkin waktunya saya berhenti sebentar dan mendengarkan apa yang sedang disampaikan mata.
Sumber: https://www.insto.co.id
SePeLe hari itu membuat saya belajar satu hal sederhana: jangan tunggu mata benar-benar tidak nyaman baru kita peduli. Ada banyak hal kecil yang ternyata bisa dilakukan untuk menjaga mata tetap nyaman. Dan ketika gejalanya sudah muncul, jangan panik, segera tetesin Insto Dry Eyes!
Kenalan Lebih Dekat dengan Insto Dry Eyes
Setelah kejadian hari itu, saya jadi tidak hanya mengenal Insto sebagai “obat tetes mata yang saya beli di apotek karena mata sedang bermasalah”. Saya jadi penasaran juga, sebenarnya apa yang membuat #InstoDryEyes cocok dengan kondisi yang saya alami waktu itu?
Ternyata, Insto punya beberapa varian dengan fungsi yang berbeda. Ada Insto Regular untuk mata merah akibat iritasi ringan, Insto Cool untuk mata merah akibat iritasi ringan dengan sensasi dingin, dan ada Insto Dry Eyes yang memang ditujukan agar #BebasMataKering.
Nah, ini yang relevan dengan pengalaman saya. Insto Dry Eyes digunakan untuk memberikan efek pelumas seperti air mata, membantu mengatasi gejala kekeringan pada mata, serta meringankan iritasi mata yang disebabkan oleh kekurangan produksi air mata.
Jadi, kalau sebelumnya saya mengibaratkan mata seperti tenggorokan yang sedang kehausan, saya sekarang punya gambaran yang lebih jelas.
Insto Dry Eyes bekerja sebagai pelumas seperti air mata. Bukan sekadar membuat mata terasa “basah”, tapi memberikan pelumasan tambahan ketika mata mengalami gejala kekeringan. Dan yang membuat saya semakin relate adalah kandungan bahan aktifnya.
Insto Dry Eyes New Packaging
Insto Dry Eyes mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) 3,0 mg dan Benzalkonium Chloride 0,1 mg. HPMC inilah yang berperan sebagai bahan aktif seperti air mata. Nama HPMC memang terdengar seperti nama yang hanya akan saya temui di laboratorium, bukan sesuatu yang akan saya ingat setelah perjalanan naik kereta dan motor. Tapi sekarang saya tahu satu hal sederhana, bahwa bahan aktif tersebut memang berkaitan dengan fungsi Insto Dry Eyes sebagai pelumas mata.
Produk ini tersedia dalam ukuran 7,5 ml, ukuran yang menurut saya cukup praktis untuk dibawa bepergian. Apalagi kalau aktivitas saya memang hampir selalu berpindah-pindah kendaraan. Tinggal slup, masukkan Insto ke tas.
Cara Menggunakannya Juga Tidak Boleh Asal
Dari pengalaman itu, saya juga belajar bahwa menggunakan Insto tidak cukup hanya dengan “tetes, selesai”. Ada aturan yang perlu diperhatikan.
Informasi resmi Insto Dry Eyes mencantumkan bahwa lensa kontak perlu dilepas saat menggunakan produk ini. Lensa kontak dapat digunakan kembali minimal 15 menit setelah obat diteteskan. Insto juga mencantumkan keterangan untuk tidak digunakan rutin dalam jangka panjang.
Jadi, kalau sedang menggunakan lensa kontak, jangan lupa perhatikan aturan tersebut, ya! Buat saya, informasi seperti ini penting ya untuk tetap memahami cara pakainya.
Karena Ada Perjalanan yang Harus Diselesaikan
Hari itu, begitu sampai, saya dan delapan teman relawan lainnya langsung membagi tugas. Kami membawakan materi tentang self-esteem untuk anak-anak. Sengaja dipilih tema ini karena banyak dari mereka tumbuh di lingkungan yang membuat mereka jarang mendengar bahwa mereka berharga, bahwa apa yang mereka rasakan dan pikirkan itu penting. Kami ingin mereka tahu, nilai diri seseorang tidak ditentukan dari mana ia berasal atau apa yang ia punya.
Tapi tentu saja, self-esteem bukan topik yang bisa disampaikan hanya lewat ceramah. Jadi kami mengemasnya lewat permainan. Ada sesi di mana anak-anak bergantian bercerita tentang hal yang mereka banggakan dari diri mereka sendiri, sesederhana “aku jago gambar loh kak” atau “aku selalu laku jualan donatnya”. Ada juga permainan yang mengharuskan mereka saling memuji teman di sebelahnya, dan permainan yang membuat kami semua tertawa lepas sambil bernyanyi bersama.
Melihat mereka tertawa, bernyanyi, dan berebut giliran untuk bercerita, saya jadi ingat lagi kenapa mata ini penting untuk tetap sehat. Karena momen seperti itu, wajah-wajah yang tadinya malu-malu lalu perlahan berani angkat tangan, tidak akan pernah bisa saya rasakan penuh kalau saya memutuskan pulang di tengah jalan hari itu.
Perjalanan 52 kilometer, mata yang sempat SePeLe, dan Insto Dry Eyes yang menyelamatkan hari itu, semuanya jadi bagian dari satu cerita. Bahwa kadang, hal-hal yang terlihat sepele justru bisa menentukan apakah sebuah perjalanan penting bisa sampai di tujuan atau tidak. Untung ada #InstoDryEyes yang membantu meredakan gejala SePeLe saya waktu itu, supaya cerita hari itu bisa berakhir dengan tawa anak-anak, bukan dengan penyesalan karena saya batal datang. #MataSePeLeJanganSepelein
Kalau Kamu? Pernah mengalami mata kering saat di luar ruangan atau habis aktivitas panjang?
Atau punya cerita traveling sambil bawa Insto?
Share, yuk! Siapa tahu bisa saling belajar dari pengalaman kita!
Referensi tulisan:
-
- National Eye Institute. Dry Eye. Diakses dari https://www.nei.nih.gov/learn-about-eye-health/eye-conditions-and-diseases/dry-eye
- National Eye Institute. Causes of Dry Eye. Diakses dari https://www.nei.nih.gov/eye-health-information/eye-conditions-and-diseases/dry-eye/causes-dry-eye
- Insto. Insto Dry Eyes. Diakses dari https://insto.co.id/produk/insto-dry-eyes
- Toda, I., Fujishima, H., & Tsubota, K. (1993). Ocular fatigue is the major symptom of dry eye. Acta Ophthalmologica, 71(3), 347–352.
- National Heart, Lung, and Blood Institute. (2022). How Sleep Works: Sleep Phases and Stages. National Institutes of Health.
Dokumentasi pribadi penulis
Infografis oleh penulis


Wah Mbak, keren banget masih konsisten jadi fasil di sana. Itu untung ada insto ya, ternyata jauh banget kamu perjalanannya.
Teh, baru tau kalo penggunaan Insto itu beda-beda. Selama ini maen tetes tetes aja 🫠